3 Agustus 2018

Susah Sinyal a Review

Identitas buku
Judul buku : Susah sinyal
Penulis : Ika Natassa dan Ernest Prakasa
Penerbit : Gramedia
Harga : Rp. 79.000,-
Jumlah halaman ; 264++

***
BLURB

Jakarta bukan jenis kota yang membuatmu jatuh cinta pada pandangam pertama.
Tiga puluh enam tahun hidup di jakarta sudah cukup untuk membuat Ellen paham bahwa kota ini tidak cocok untuk yang lemah dan gampang menyerah, dan itu membuatnya sukses menjadi pengacara di usia muda.

Ellen selalu punya solusi untuk segalanya, kecualu untuk anaknya sendiri, Kiara., remaja pemberontak yang lebih sering melampiaskan emosi dan kreativitasnya di media sosial. Sebagai single mom, Ellen membesarkan Kiara dibantu ibunya, sosok yang bagi Kiara lebih seperti ibu dibandingkan Ellen. Tanpa Ellen sadari, hubungan mereka kian renggang dan selalu terganjal masa lalu yang Ellen simpan rapat-rapat.

Segalanya ada pada waktunya, dan segalanya juga bisa tiada pada waktunya. Dan ketika tiba pada waktunya, kita tidak bisa apa-apa. Hidup mereka langsung berubah saat sebuah tragedi menerjang tanpa diduga, yang menyebabkan Ellen "melarikan diri" ke Sumba dengan Kiara, meninggalkan sementara kasus besar yang sedang dia tangani.

Didaptasi dari skenario film Susah Sinyal karya Ernest Prakarsa dan Meira Anastasia, novel kolaborasi pertama Ika Natassa dan Ernest Prakarsa akan membawa kita ke dalam perjalanan menemukan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, dan juga menerima kenyataan, sepahit apapun itu, tanpa kehilangan harapan.

***
Review

Kalo kalian pembaca karya Ika Natassa dan juga penikmat stand up-nya Ernest, tentu kalian akan bisa dengan mudah menebak bagian mana yang "Ika banget", dan bagian mana yang "Ernest banget".

Novel ini sebenarnya bukan novel komedi, tapi beberapa dialog (yang gue yakin banget kalo itu bagiannya si Ernest), bikin novel ini bisa dinikmati dengan santai. Terlepas dari konfliknya yang berat dan cukup serius sebagai benang merah cerita. Dan Ika Natassa, menuliskan bagiannya dengan sangat baik, as always, deep dan bikin bapeeerrr maksimaaal...

Tidak terlalu banyak tokoh didalamnya dan juga cerita yang tidak berbelit-belit, khas novel-novel Ika Natassa bikin cerita ini enaaak banget dibaca. Ngalir santai sampe tau tau udah di endingnya aja. Hiks.. Beneran loh ga berasa tau-tau udah di ending aja, padahal bukunya mayan tebel. Kayak yang berasa, "duh kok udah abis aja sik".

Sumba digambarkan dengan baik, meski beberapa narasi gue skip baca karena emang gue anaknya gampang bosen baca narasi yang kelewat panjang. Haha. Jadi bukan salah tulisannya yang ngebosenin, emang dasar gue nya aja yang gampang bosen. Eh, Tapi tetep bikin gue penasaran dan jadi ingin ke sumba loh. Dan yg harus dipastikan lagi kalo mo ke sumba, kudu hotel yang ada wifinya ya. Catatan penting banget buat gue setelah baca buku ini (justru yang kayak gini yang malah jadi pelajaran gue after baca buku cobaaaa hahahaha). Karena kaaan gimana mo instastory dong kalo ga ada sinyal 🤣 Sinyal itu penting!!

Terlepas dari bagaimanapun sikap Ellen kepada Kiara, pelajaran (lainnya selain urusan sinyal) yang bisa gue dapatkan dari membaca novel ini adalah... Bahwa seorang Ibu, bagaimanapun dan apapun yang dia lakukan, pastilah yang menurutnya paling baik bagi anaknya. Meski kadang dia lupa mempertimbangkan perasaan anaknya. Atau mungkin dia hanya mengambil pilihan yang menurutnya baik tanpa berkompromi lebih dulu dg yang lain. Padahal ada perasaan anaknya kan yang harus dia pertimbangkan. Kadang, yang dikira baik bagi Ibu belom tentu yang diinginkan oleh anaknya. Mudah-mudahan Kalandra kelak ngerti, kenapa Mami tetep milih untuk kerja dan nitipin Kalandra sama Oma. #kemudiansedih

Yang gue suka dari cara Ika menulis adalah.. Ika selalu menyelipkan fakta yang entah gimana caranya bisa aja dia dapet. Seperti pada buku ini, pakaian terbaik beberapa org penting. Si A dg ini, si B dg itu. Blablabla. Dan di beberapa novel Ika lainnya juga selalu ada info2 semacam ini. (Ya riset dong mamiiiii....). Something yang selalu bikin gue kagum sama beliau karena bagi gue selain tulisannya bagus, dia juga pintar.

Susah Sinyal Yang gue punya adalah buku dengan cover lama. Cover dengan para pemain filmnya. Gue gak berkesempatan nonton filmnya waktu itu karena tau sendiri ya ditempat gue tinggal baru ada bioskop sebulanan ini. Hiks. Jadi mungkin cover novel ini adalah gambar poster filmnya. Gatau juga gue.. Naaah sekarang udah ada cover baru, design by Ika Natassa. Tuh gila kan ya, udah lah pinter nulis, berwawasan luar, karir bagus, pinter gambar pulaaaa. Apa ga gue kagum coba... Dan gue pribadi emang selalu berusaha punya novel (apalagi untuk para penulis favorite gue) yang edisi cover pertama kali terbit. Karena apaaaa? Yaaa... Seneng ajo gitu klo punya yg edisi awal. Berarti emang mengikuti, bukan beli pas udh rame aja. If you know what i mean ~ No offense, ini sih cuma kepuasan pribadi aja. Hehehe.

Nah, karena selama baca novel ini gue lagi sok rajin nulis beberapa kutipannya. Maka ijinkan gue menuliskan ulang beberapa diantaranya yang membekas dihati gue, dibawah ini :)

"Tidak ada yang dapat mengajarkan kita bagaimana menghadapi kehilangan, tapi kalaupun ada, semua kata-kaya itu tidak berarti karena tidak akan ada yang dapat mengembalikan yang telah pergi." (Halaman 55)

"Everyone has their own battle to fight, just like everyone has their own battle to lose, to win the war called life." (Halaman 92)

"You are only as good as you believe you are" (halaman 202)

"..karena, begitu merasa paling hebat, kamu akan berhenti belajar. Kamu akan sombong dan gak mau nyari ilmu lagi." (halaman 203)

"Pada akhirnya tidak ada yang bisa menolong kamu kecuali diri kamu sendiri" (halaman 219)

"To some people, we can never be right. Bagi beberapa orang, kita akan selalu salah. Tapi terkadang, butuh satu kesalahan besar untuk menciptkana keajaiban." (halaman 250)

Eniwei, yang masih ngeganjel dan jadi pertanyaan gue adalah sosok si bapaknya Kiara ini. Ntah kenapa lah gue malah penasaran ama doi. Dan karena cuma diceritain dikittttt banget, tambah lah penasaran. Hahaha.

Tadinya, ketika membaca judul buku ini gue berfikir bahwa cerita ini entah apa tapi yang berhubungan dengan sinyal yang ilang-ilangan. Yaa gue ga sepenuhnya salah sih, tapi juga ga sepenuhnya benar. Karena sesungguhnya konflik dan cerita utamanya ga tentang itu, hanya saja memang "susah sinyal" ini lah yang menjadi pemecah konfliknya.

Akhir kata, rating buku ini bagi gue adalah 9/10. Cocok dibaca siapa saja, dalam kondisi apapun, dan penggemar romance ataupun komedi sama-sama bisa menikmati buku ini. Bacaan ga berat tapi juga ga terlau ringan. Padat berisi tapi tetap dengan gaya bercerita yang santai. Cocok lah ya buat refreshing. Etapi, Kecuali lo penggemar thriller atau horor ya, mon maap nih buku ini agak kurang cocok buat lo. Hehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design ByWulansari