22 Agustus 2016

Diantara Kalian (part 1)



***
From : Alisha
Lagi dimana, K??

Handphoneku bergetar, satu bbm chatt baru masuk. Aku melihat sekilas, kemudian menekan agak lama pada chatt tersebut. Tanpa membacanya, aku memilih tombol Akhiri Obrolan.
Orang bilang, selingkuh dimulai dari saat kita menghapus pesan darinya. Namanya Alisha, aku bertemu dia pada suatu periode pemeriksaan rutin dikantorku. Dia adalah salah satu dari tim pemeriksa. Sampai detik ini aku tidak mengerti, bagaimana bisa ada bidadari yang menyamar menjadi auditor. Seperti dia.
Pelan, ingatanku kembali pada hari dimana pertama kali aku bertemu dia. Untuk ukuran tim auditor, Alisha rasanya terlalu cantik. Bukan berarti tidak ada auditor yang cantik, ya. Tapi Alisha tidak tampak seperti auditor. Dia baik, ramah, murah senyum, tutur katanya sopan. Alih-alih seperti tim yang lain yang selalu memasang wajah jutek dan jarang tersenyum, Alisha benar-benar seperti bidadari.
Tok. Tok.
Kaca jendela mobilku diketuk. Lamunanku buyar. Gadis manis berambut lurus sebahu dengan kacamata membingkai mata indahnya tampak diluar.
Aku tersenyum, membuka kunci pintu mobil dan membiarkan gadis manis itu masuk dan duduk di sebelahku.
“Hai, sayang....” Dia mendaratkan ciuman ringan di pipi kiriku.
Sesuatu berdesir dibalik dadaku.
“Aku udah telpon Tante April, ngabarin kalo hari ini kita jadi kesana untuk lihat dummy undangan dan souvenirnya...” Gadis manis itu nyerocos, menjelaskan tujuan kami hari ini.
Namanya Alisha, calon istriku. Bukan bidadari yang bbm-nya ku hapus tanpa kubaca tadi. Tapi nama panggilan mereka memang sama. Entah kenapa, semesta nampaknya sedang bermain-main denganku.
“Sayang... Kamu kenapa? Kok ngelamun?” Suara lembut itu lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
Aku menghela nafas, tersenyum, mengelus pelan rambut lurusnya. “Gak papa, sayang. Kamu cantik hari ini....”
Dia tersipu. Manis sekali.
“Jalan sekarang?” tanyaku memastikan.
Dia mengangguk.
Mobil berjalan pelan meninggalkan rumahnya. Kurang dari tiga bulan lagi, gadis ini akan resmi menjadi istriku. Harusnya aku bahagia, bukan?

***
“Kamu sama dia sudah lama pacaran?”
Pada pertemuan kami yang kesekian, yang bahkan tak pernah berani kami sebut kencan, bidadari itu bertanya padaku. Iya. Dia tahu bahwa aku punya pacar. Dia tahu sejak pertama kali kami berteman di BBM. Aku menulis nama itu pada status BBM-ku. Alih-alih menjauh, kami malah semakin dekat.
Aku meniup-niup pelan gelas berisi kopi yang masih mengepul di hadapanku. “Sekitar delapan bulanan...” jawabku kemudian.
“Wait... delapan bulan?” Dia tampak berfikir, menghitung dengan jemari lentiknya. “Berarti bulan Februari?”
Aku mengangguk. Menatap lurus kedalam mata bulat cokelatnya yang tampak meluluhkan itu. Hari itu dia datang dengan terusan selutut berwarna putih susu bergambar bunga-bunga berwarma kuning cerah. Rambut panjangnya dia ikat satu, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu membuatku meneguk ludah.
“Ya ampun...” Dia memekik tertahan, menutup mulutnya, tampak sekali dia terkejut. “Dan kita ketemu maret, ya?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk, “Akhir maret tepatnya. Sebulan setelah aku resmi sama dia...” Aku menjelaskan.
Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku tebak. Cukup lama, hingga akhirnya dia mengalihkan tatapannya dan mulai menyuap es krim strawberry dihadapannya. Es krim strawberry memang favoritenya.
“Kalo kamu sama dia, udah lama?” gantian aku yang bertanya.
Karena sama sepertiku, bidadari itu juga sudah ada yang memiliki. Bahkan aku tau dari sejak pertama kali kami bertemu. Rekan kerjaku mendapati tatapan terpesona yang aku arahkan padanya, tanpa sempat bertanya, dia sudah menjelaskan bahwa bidadari itu sudah ada yang memiliki. Lagian, mana mungkin bidadari secantik dia masih single, bukan?
“Tujuh tahun...” jawabnya pelan, tapi tegas.
“Tujuh... tahun?” Aku mengulang, terbata.
Dia mengangguk. Ada bekas es krim disudut bibirnya. Aku mengambil tissue dan mengelap bekas es krim itu. Suasana mendadak hening, dia menatapku lama. Aku tersenyum.
“Sejatuh cinta apapun aku sama kamu, Al.... kamu harus tetap sama dia, ya...” kataku kemudian.
“Kenapa?”
“Karena gak mungkin aku merusak hubungan yang sudah terjalin begitu lama, kan?”
“Bukan karena kamu dan dia akan segera menikah?”
Aku diam, memilih tidak menjawab.
“Aku harusnya menikah mei tadi. Tapi terus aku ketemu kamu, mendadak aku ragu. Ternyata kamu udah punya pacar. Terus tau-tau aja kita udah sampe disini...”
Aku menyeruput kopiku yang masih agak panas. Tenggorokan seperti disiram air es, kelu. Maka aku butuh sesuatu yang hangat untuk mencairkannya.
“Tapi sekarang aku sadar... kita memang ga diciptakan untuk berjodoh...”
Aku meraih sebelah tangannya dan menggenggamnya erat. Darahku berdesir. Debaran aneh yang hanya ada setiap kali aku bersama dia ini kembali datang memenuhi rongga dadaku. Aku memejamkan mata, mencari pilihan kalimat yang pas.
“Keanu...” Dia menyebut namaku, pelan.
“Mungkin benar bahwa memang ada dua orang yang diciptakan untuk saling sayang, tapi tidak untuk bersama...” kataku pelan. “Seperti kita ini” Dadaku sesak.
 “Apa ini saatnya kita untuk berhenti?” Dia menatapku sayu.
“Apa boleh kalau kita terus kayak gini sampai salah satu dari kita menikah?” tanyaku penuh harap.
Bidadari itu menatapku lama. Tatapan yang lagi-lagi tidak bisa kuartikan. Aku harap-harap cemas, sekaligus menyiapkan hati kalau memang bidadari itu mau mengakhiri semuanya saat ini.
Tapi kemudian, diluar dugaanku, dia membalas genggaman tanganku erat. Hangat. Kemudian dia mengangguk dan tersenyum.
Aku menghela nafas lega. Aku tidak butuh penjelasan apa-apa. Anggukan itu sudah lebih dari cukup. Aku meraih tangannya lebih dekat dan mencium punggung tangannya pelan. Wangi moringa menguar dari sana, parfume kesukaannya yang juga aku sukai.
Diantara kalian dari d’massive mengalun lembut dari speaker cafe, seakan menjadi backsound pertemuan yang tidak pernah berani kami namakan kencan kali itu.

***
“Sayang, menurut kamu bagus yang ini apa yang ini?” Gadis manis itu mengacungkan dua buah dummy undangan kehadapanku.
Aku mencoba memusatkan perhatianku pada kedua undangan itu. Dua-duanya dengan nuansa perak dan biru. Hanya saja yang satu dominasi perak, yang satu dominasi biru. Aku terkesikap membaca nama yang terukir manis pada bagian depan undangan itu. Dicetak tebal dengan huruf timbul. Alisha dan Keanu.
Aku setengah berharap undangan itu adalah undangan pernikahan aku dan Alisha, bidadari yang menyamar jadi auditor itu.
“Sayang?”
“Eh... Iya...”
“Kamu kenapa sih ngelamun terus? Lagi capek, ya?” calon istriku itu berdiri tepat dihadapanku, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Aku tersenyum, mengelus pelan pipinya. Kemudian meraih dua buah undangan yang tadi dia tunjukkan padaku.
“Kalo kamu suka yang mana?” aku balik bertanya.
“Aku suka yang ini, sayang....” Dia menunjuk undangan dengan dominan warna biru.
Aku mengelus pelan bagian nama yang diukir dengan warna perak. Hatiku seperti teriris.
“Aku ikut mana yang kamu suka aja, sayang...” Kataku, menyerahkan contoh undangan itu kembali padanya dan mencium pelan atas kepalanya.
Dia tersenyum, kemudian membawa contoh undangan itu kembali pada vendor. Kulihat tampak dia dan vendor undangan sedang berbincang serius, beberapa kali dia menunjuk-nunjuk bagian tertentu pada undangan.
Pikiranku kembali menerawang jauh
2 Agustus 2016

Pelantikan (lagi)

Alhamdulillah.

One by one on my list already checked.

Hari ini, Pelantikan dan Angkat Sumpah PNS dari Formasi Umum Kabupaten Musi Rawas Utara tahun 2014. Setelah drama semuanya serba terakhiran dari daftar awal, pemberkasan, prajabatan, blablabla, ga disangka ternyata Muratara justru pelantikan duluan dari Kabupaten lainnya. Kesabaran selama ini berbuah manis, dan emang ya everything always happen for a good reason.

Alhamdulillah.

Kalo sesuai jadwal, harusnya sekarang ini sedang dalam diklat sertifikasi auditor. Tapi karena satu dan lain hal, diklatnya pending. Alhamdulillah karena ternyata Allah sudah atur semuanya baik-baik. Kalo sekarang lagi diklat, gimana mau dateng pelantikannya coba? sedangkan dua-duanya adalah hal penting dalam check list bidadari. Dan Allah emang Maha Mengatur Segalanya dengan baik. Ga abis-abis lah kita mikirinnya :')

Jadi PNS tidak pernah ada dalam cita-cita masa kecil bidadari, saking takut ga kesampeannya... Tapi Alhamdulillah Allah kasih keajaiban ini.

I still remember the day I prayed for the things I have know. Thank you God...

9 Juni 2016

Happy Nine

Ini harusnya jadi postingan tanggal 9 bulan lalu, tapi karena bulan lalu megang hape jadi sesuatu yang mahal banget dan juga fokus ke urusan prajabatan ampe ga kepikiran yang lain-lain, jadi daripada ga di posting sama sekali gue bikin jadi postingan tanggal 9 bulan ini aja yaaa :')

Alhamdulillah, setelah perjalanan panjangnya dyta dan wawan, akhirnya satu proses penting (untuk menuju proses selanjutnya) terlewatkan juga. Walaupun prajabatan yang jadwalnya keluar dadakan itu bikin semuanya nyaris kacau balau, alhamdulillah Allah Maha Baik (dan emang Maha Mengatur Segalanya). Dari semua rencana yang udah diatur sejak akhir tahun lalu, semuanya berjalan baik, cuma satu yang bidadari ga bisa hadir tapi acara tetep jalan dengan diwakilkan keluarga aja :)

Jalannya masih panjang sih, tapi pelan-pelan akan sampe juga ~

Sekarang... setelah ga ada lagi yang bisa ngaku-ngaku sebagai mantan terlamanya wawan... rasanya udah ga ada lagi juga yang bisa bilang wawan pacaran ama gue cuma becandaan doang, kan? *kasih senyum manis*

Btw.. Jadi inget Ramadhan bertahun-tahun yang lalu, si ayank tiap pagi nganterin makan buat sahur. Ga peduli ngantuk, apalagi dingin. Udah gitu tiap sore masih ngerepotin dengan merengek mau buka puasa pake ini itu, dan diturutin! setelah diinget-inget emang sepanjang pacaran, ga ada maunya gue yang ga diturutin ama wawan. Semua aja diturutin, semua dibolehin. Hehehee..

Dan sepanjang pacaran kayaknya emang cuma waktu itu doang kita ga LDR-an. Selebihnya jarak selalu ngajak becandaan. Dari cuma layo-palembang ampe sekarang pagaralam-rupit. But I Thank God because God make "this" easy for us. Yaahh meski ga gampang gampang banget lah yaaa, tapi Alhamdulillah sejauh ini kita baik-baik saja, masih gandengan tangan, dan menuju arah yang sama. Berdua. Alhamdulillah...

Selamat tanggal 9 yang kesekian, sayang... Sabar sabar yaa... Semoga lekas deketan... Bukan biar dianterin makan sahur kayak dulu... Tapi biar kami bisa nyiapin makan sahur, bangunin ayank pake cium, terus kita makan sahur bareng ya sayang. Aamiin Aamiin Aamiin.

I love you, sayang :*

8 Juni 2016

Bourjois Rouge Edition

Sejak ngeliat swatch Craft-nya ABH gue jadi jatuh cinta dengan lipstik warna begitu. Merah keunguan, atau biasanya di shade lipstik dikasih nama plum-pluman gitu deh. Tapi ampe detik ini masih belum mampu beli ABH, bhahaha. Sebenernya mampu aja sih, tapi Dhea-nya masih lebih milih lipstik lain dengan dapet 3 biji ketimbang beli 1 biji ABH ahahahahaaaa

Lipstik merah keunguan gue yang pertama adalah Purbasari nomor 82, disusul Rebel-nya LA Matte, dan dalam postingan ini gue mau reviu my newest baby si Bourjois Rouge Edition yang baru dibeli sebagai hadiah capek prajab hahaa hadiah buat diri sendiri :p Btw, yang tau harganya berapa plis jangan kasih tau calon suami gue yaaa ~

Jadi gue beli dua si Bourjois ini. Nomor 13 Fu(n)chsia dan Nomor 14 Plum Plum Girl. Yang nomor 13 warna pink terang malah kalo sekilas liat kayak merah, tapi sebenernya pink terang. Tapi pink nya cantik ya ga gonjreng atau stabillo banget, engga. Kalo tau warna-warna Purbasari Matte Lipstik, nomor 85 persis kayak warna Fu(n)chsia ini. Yaelah ribet banget ya nyebut nama shade nya, lebih gampang nyebut nomornya hahahaaa. Kalo yang nomor 14 si plum plum girl is my favorite colour, merah keunguan yang ga beda jauh ama Craft-nya ABH dan Purbasari 82. Horeh!!

Sejujurnya, gue lebih suka nyebut shade lipstik dengan nomornya. Ga ribet aja. Apalagi nama shade lipstik suka aneh-aneh. Seperti shade bourjois ini laah contohnya haha. Beda dengan kebanyakan orang yang lebih suka shade lipstik dikasih nama, unik, lucu. Iya siiih, tapi tetep susah aja nyebutnya. Apalagi kalo mau nyebut ke mbak mbak SPG pas mau beli. Enak kalo beli online, kalo mau beli langsung gimana coba nyebut nomor 13 si Bourjois ini, hayooooo?? :D

Harga menentukan kualitas memang benar adanya, girls! Lipstik ini ga bikin bibir kering, pengaplikasiannya juga gampang sekali oles udah cover warna bibir banget. Ga bikin garis garis bibir nampak juga karena hasilnya (di gue) ga dead matte, masih ada efek lembabnya seperti satin finish gitu (ceilaaaa udah bisa ngomong ala beauty blogger gini gue yahhh). Tapi walau keliatannya masih lembab, dia kissproof loh. Pas gue coba nyium punggung tangan sama sekali ga nempel, berarti aman kalo nyium pundak pacar ga bakal nempel di baju #eeeehhh

Staying powernya juga kece. Dipake seharian tanpa makan yang berminyak sih dia masih nempel. Tapi begitu makan berminyak, dia meleber kemana mana, dan ikut nempel di makanan daaaan dimana-mana. Agak ribet juga jadinya. Tapi kalo sekedar dipake makan biasa atau minum minum ringan sambil nyantai sih kalo gue kemarin ga ada dia ninggalin jejak di sendok, bibir gelas, bibir pacar (eh).

Kalo warnanya mulai pudar dan mau di touch up juga pas warnanya ditimpa doi ga menggumpal. Aman aman aja buat di touch up berkali-kali tanpa harus hapus dulu sisa lipstik sebelumnya. Ini gue suka karena jadi ga bikin repot kalo harus touch up ditengah keramaian, tinggal touchp up, ga perlu apus apus pake remover dulu hihiii... Eniwei meski dia kissproof dan ga gampang hilang, ternyata ngapusnya cukup mudah... Ga perlu gosok keras keras, atau kudu remover banget... Pake tissue basah juga ilang, tissue biasa juga bisa sih digosok agak keras tapi ga hilang seluruhnya. Dia ga lengket dibibir itu pokoknya yang gue sukaaaa...

Lipstiknya tidak berbau wangi seperti kebanyakan Liquid Lipstik yang gue punya. Ada wangi khas yang entah wangi apa, agak sedikit ga enak sih tapi ga terlalu mengganggu. Wanginya ga tercium kalo kita ga mendekatkan lipstiknya kehidung.

Bentuk lipstiknya persegi, cukup anti mainstream karena kebanyakan liquid lipstik bentuknya bulet... Tingginya juga cuma sejari tengah gue, entah ya berapa senti, pokoknya cuma setengah tinggi LA Matte lah.. Ringkas dibawa-bawa jadinya, ga menuh-menuhin make up pouch gue yang seupil karena demen pake tad kecil hihiii... Karena botolnya kecil otomatis aplikatornya juga kecil, tapi passss, makenya ga susah. Nyaman laah pokoknya...

Botolnya plastik bening yang bikin kita bisa ngeliat warna lipstiknya. Tutupnya sewarna dengan warna lipstik didalamnya. Di bagian botol ada tulisan Bourjois timbul dengan warna transparan, dan disisi lain tulisan Rouge Edition velvet berwarna hitam. Pada salah satu sisi ada stiker kecil bertuliskan nomor dan nama shade, sert keterangan Matte Finish (tapi di gue ga dead matte banget hasil akhirnya sih). Dan di bagian tutup botol ada keterangan size (7,7 ml) dan masa kadaluarsa yaitu 12 month setelah dibuka, agak lebih cepet dibanding beberapa liquid lipstik gue yang kadaluarsanya 24 bulan setelah dibuka.

Gue suka warna pink-nya, apalagi warna merah keunguannya. Duh gue mah emang pecinta warna bold sih, ya... Hihiii... Si Bourjois ini menurut gue worth it lah, dengan harga segitu, ga mengecewakan.

Another shade, maybe? *diomelin ayank*

6 Juni 2016

Prajabatan

Alhamdulillah.... Ternyata selesai juga perjuangannya...

Awal masuk berasa ga akan sanggup. Tapi temen-temen seperjuangan satu angkatan saling menguatkan, bahwa ini akan berakhir. Dan tiap kali mulai ga kuat, masing-masing saling berbagi semangat. Tiap kali dhea nya pengen nyerah, ada aja yang ngingetin dan bilang "nikmatin aja, bawa enjoy, ntar kelar juga kok".

Akhirnya sampai juga kita diujung perjuangan. Selesai sudah perjuangan panjang ga boleh bawa hape, kurang minum, kurang bobok, pusing belajar ANEKA, ribet aktualisasi, lari siang tiap sebelum makan siang, push up di aspal panas, jaga serambi, nyebur kolam jadi buaya, makan cepet cepet dan pake dihitung. Selesai sudah semuanya, Alhamdulillah...

Yang awalnya ngitungin jam tiap hari biar cepet balik barak dan bobok, sampe akhirnya menikmati banget nyanyi-nyanyi sambil lari keliling lapangan tiap siang sebelum makan siang. Meski hidup kita habis di baris dan hormat ruang ini itu yang ga kelar-kelar, ternyata lucu juga ya kalo diinget-inget. Dan memang cuma disana kita semua bisa bangun jam setengah empat pagi terus senam pagi. Hahahaa. Cuma disana juga bisa liat bidadari sering lupa pake lipstik saking lebih milih tidur daripada mekapan :'))

"Indah untuk dikenang, tidak untuk diulang"

Sampai ketemu lain waktu dalam keadaan yang lebih baik ya, gaes... I thank God because our path crossed. Kita ga hanya saling bertemu teman baru, tapi kalian sudah seperti keluarga baru. Masing-masing jadi punya banyak temen dari berbagai instansi, ya. Hehehehee...

Terimakasih. Hampir sebulan, sudah saling menguatkan, menjaga, saling bangunin tiap ketiduran dikelas ANEKA, bantu ngabisin makan, menyemangati. For everyhing we've done together...

I love you.
I'll miss you.
I'll miss us.

on pic.. prajab angkatan 28, Golongan III, cpns pemda musi rawas utara

20 April 2016

LTPro Long Lasting Lipstick

Pulang weekend ke Prabumulih niatnya sekalian belanja barang-barang kebutuhan Prajabatan. Iya nih, mau prajab. Jadwalnya sialan banget lah keluar pas deket acara besar di mei yang udah direncanain dari kapan tahun. Hiks. Tapi kelak akan tau alesannya kenapa jadwal prajab ini mesti banget bikin kebaya yang udah dijait jauh-jauh hari jadi gak kepake. *nangis dipojokan*.

Balik lagi ke belanja kebutuhan Prajabatan, salah satunya ada beli sunblock. Rawan banget kaaaan ke toko kosmetik untung ukuran gue yang terakhir beli lipstik itu, ehmmm, januari! Dan bener aja, pas beli sunblock wardah, sekalian nanya Lipcream yang baru itu. Syukurnya belom keluar jadi ga jadi beli. Tapiiiii pas mau keluar toko, pas banget disamping pintu keluar nemu lipstik yang udah di list dan belom sempet dibeli-beli.
LTPro Long Lasting Lipcream.

Okay. Nanya nanya. Coba coba shade. Beberapa shade yang gue incer sih kosong, tapi ga lantas mengurungkan niat buat beli. Apalagi beli dua produk free lip liner atau eye liner. Akhirnya setelah swatch swatch, pilihan gue jatuh di LTPro Long Lasting Lip Cream nomor 2 warna shocking pink, dan LTPro Velvet Matte Lipstik no 105 (Baby Pink). Free nya Lip liner LTPro yang fresh purple.

Expired date nya masih 2019, kalo calon suami nanya, bilangnya buat disimpen jadi salah satu isi "seserahan" :p *padahal yakali nyampe rumah juga langsung dicobain kecuali lip liner-nyaa.. Eniwei, Panjang kali lebar isi postingan ini sebagai intro sebenernya gue mau cerita dikit tentang si LTPro Long Langsting Lipcream. Dikit doang sih. Hahahahaaa..

Shade 02 ini ga ada dalam list karena warnanya pink ngejreng. Kalo diliat swatch-swatch yang banyak di instagram, google review, dll... warnanya tuh kayaknya neon banget... Tapi gue beli karena di toko kemarin untuk si Lipcream ini tinggal sisa shade yang nude-nudean, satu ini doang yang bold. Elo tau kan kalo gue anti banget pake lipstik nude :') makanya akhirnya gue beli yang 02, dan ternyata pas dicobain ga ngejreng banget, ga neon banget, malahan bikin muka gue keliatan seger.. Hihii... Alhamdulillah...

Botolnya plastik, ga terlalu gede, dengan aplikator yang cukup panjang. Botolnya bening jadi ga perlu repot bolak-balik botol atau buka satu satu untuk tau warna apa. Ada expired date di salah satu sisi botol, tapi ga tau tahan berapa lama sejak lipstik nya di buka. Ada kode produksi, kode nomor, dsb di bagian bawah.

Ga terlalu cair, juga ga terlalu pekat. Gampang di aplikasiin, dan begitu dioles berkali-kali, ga lantas bikin bibir kering atau menggumpal di bibir. Dan ringaaaaaan banget di bibir, macam lagi gak pake lipstik. Ada wanginya, tapi ga mengganggu sih menurut gue. Wangi-wangian manis yang ilang pas dioleskan ke bibir, cuma pas aplikatornya dideketin ke hidung iyaaa berasa banget wanginya. Tapi ga bikin eneg sihhh, cmiiw.

Ga begitu kiss-proof karena kalo dicium pacar tetep aja lipstiknya ilang warnanya. #ehh Tapi kalo dipake seharian, makan berkali-kali meski geragasan, dan minum banyak, warnanya tetep ada. Ilang dikit bagian tengahnya tapi tetep masih ada warna yang nempel. Sedikit tips, kalo mau rada kiss-proof (maksudnya pas makan ga nempel di sendok, atau minum ga nempel di bibir gelas, dll yaaa bukan kiss proof anti dicium pacar hahahahaaa), coba sebelum minum, nyium tissue dulu. Jadi udah berbekas di tissue dulu kan... Nah abis itu baru deh makan minum dll. Insyaallah ga nempel lagi di sedotan, bibir gelas, sendok, dll. Coba, deh! ;)

Gampang dibersihkan, dan ga bikin bibir lengket. (Reviu selipan, kalo LA Matte rada bikin bibir lengket soalnyah). Pokoknya oke laaahhh.....

Terus... Hm... Apalagi, yaaaa..... *ngeliat liatin botol lipcream-nya*

Cukup sekian, dan selamat mencoba. Kalo udah nyobain, bagi ceritanya yaaaahhhh ;)

cerita yang sudah (harus) selesai



***
Aku mengaduk tak jelas gelas teh yang mengepul dihadapanku, belum setetes pun cairannya mengaliri tenggorokanku. Padahal Keara selalu bilang, teh selalu enak dinikmati saat hangat.
Ah, Keara.
Aku mengingat lagi detail awal pertemuan kami. Dia yang baru selesai lembur dan minta ditelponkan satpam taksi, aku yang sedang berjalan menuju parkiran. Dan tawaran mengantarnya pulang terlontar begitu saja. Awalnya dia menolak, tapi setelah aku meyakinkan bahwa tak apa-apa akhirnya dia mau.
Kami sudah nyaris setahun satu kantor tapi rasanya belum pernah bertegur sapa selain bertukar senyum kalau tidak sengaja berpapasan atau bersama-sama ada dalam satu lift. Dia cukup terkenal karena selalu mencolok dengan warna tas dan sepatunya yang selalu matching sama warna kemeja dalaman blazernya. Belum lagi bibir berpulas lipstik merah yang selalu menyunggingkan senyum. Her signature. Dan bukan satu dua laki-laki dikantor kami yang berusaha mendekatinya.
Perjalanan pulang malam itu menjadi menyenangkan karena Keara bukan jenis wanita jaim-an sehingga mobil terasa ramai dengan celotehnya. Kami seperti tidak kehabisan bahan pembicaraan karena Keara seperti punya banyak hal untuk diceritakan. Padahal malam itu adalah pertama kalinya kami mengobrol dan berada sedekat itu, tapi rasanya seperti sudah bersahabat lama.
Malam itu diakhiri dengan kami bertukar nomor telpon dan pin bbm saat mobilku berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Dan berlanjut menjadi bbm-bbm gak penting di sela jam bekerja, telpon-telpon random setiap malam, keliling palembang mencicipi kuliner nyaris setiap malam minggu (dan Keara bukan pula jenis wanita yang maunya diajak makan di restoran mahal aja, dia sama sekali tidak keberatan dan malah suka diajak makan di warung-warung tenda pinggir jalan),  dan berbagai agenda seru lainnya setiap hari minggu (entah itu nonton bioskop, ke toko buku, nonton konser musik, apa saja..)
Dua tahun kebersamaan kami cukup membuat aku mengenal Keara luar dalam. Dia yang lebih milih nggak jadi pergi daripada harus pake tas dan sepatu yang warnanya ga matching sama baju (well, jangan tanya sebanyak apa koleksi tas dan sepatunya Keara, ya!). Keara suka teh, dan aku selalu suka memperhatikan cara dia meminum tehnya, menyesap sesendok demi sesendok selagi gelas teh masih mengepulkan asap hangatnya. Keara suka membaca novel romance dan ga suka nonton film action yang banyak berantem-berantemnya. Keara suka mendengarkan lagu-lagu rock. Keara gak bisa jauh dari smartphone-nya. Keara jarang marah, gak bisa diem kecuali lagi sakit, gak suka sayuran hijau karena katanya mirip rumput. Keara selalu bawa tas dengan isi seabrek setiap pergi, mulai dari bedak, tissue, lipstik, parfume, dompet, headset, charger, blablabla. Dan yang membuatku selalu terkesima adalah Keara selalu membawa mukena didalam tasnya, apapun keadaannya, kemanapun kami, Keara selalu menyempatkan sholat ketika waktunya sudah tiba.
Aku mengaduk lagi gelas tehku, masih tak berminat memindahkan setetes pun isi didalamnya kedalam rongga mulutku.
Ah, Keara.... Dua tahun ini terlalu indah.
Berbagai kenangan kembali berseliweran, semacam video yang terputar jelas dikepalaku. Aku ingat suatu hari pernah membawakan segelas teh hangat dengan irisan daun mint ke ruang kerjanya, dia yang sedang sibuk dengan setumpuk berkas mengejar deadline akhir bulan kemudian tersenyum sumringah, memelukku erat, dan berkata “Kafkaaaa... kamu tau aja apa yang lagi aku butuhkan. Makasih ya, ganteng... Andai kita ketemu tiga tahun lebih cepat, yaa...”
Drrtt....
Lamunanku buyar terganggu getaran smartphone yang berada tepat disebelah gelas tehku. Sebuah email masuk. Aku mengernyit bingung.
Pelan kuraih smartphone itu dan mendapati nama Keara sebagai pengirim email. Aku semakin tak mengerti. Kami berjanji bertemu disini, sore ini, Tapi Keara sudah terlambat dua jam. Keterlambatan yang membuat pikiranku melayang kemana-mana, membawa aku menelusuri berbagai kenangan kami. Lantas kenapa bukan dia yang datang tetapi email ini?
Email itu cukup panjang dan aku membacanya perlahan dalam diam.

From      : keara.kurniawan@gmail.com.
To         : kafkakaf@gmail.com
Subject   : <no subject>

Dear Kafka,
Sebelumnya maafkan aku karena setelah sekian jam menunggu, bukannya aku yang datang tetapi malah email panjang ini. Aku sudah datang, ganteng. Tepat waktu. Tapi melihat kamu duduk disitu, aku mendadak kehilangan semua keberanian yang sudah aku siapkan sejak semalam.
Aku mau membuat semuanya menjadi mudah. Dan kalo tadi aku berjalan menemuimu, maka pasti akan sulit buat kita berdua. Ternyata, aku mencintaimu sebesar itu, Kafka. Dan aku tau, kalo tadi kita ketemu, maka semuanya akan berulang dari awal. Aku akan kembali luluh, kamu akan semakin berat.
Kita memang harus berakhir disini, Ganteng...
Bukan karena kamu atau aku tidak baik untuk satu sama lain. Bukan pula karena kita tidak saling sayang. Tapi memang kadang ada dua orang yang diciptakan saling cinta tapi tidak untuk saling memiliki. Well, mungkin itu kita.
Terimakasih, Ganteng. Terimakasih karena kamu sudah pernah sayang sama aku. Terimakasih karena kamu sudah pernah jagain aku, sabar ngadepin aku yang rewel, nurutin maunya aku yang kadang macem-macem. Terimakasih ya, Ganteng. Terimakasih karena kamu sudah pernah mengizinkan aku dekat-dekat dengan kamu dan merasa jadi yang paling kamu sayang.
Seperti yang selalu aku katakan padamu sambil lalu, andai aku bisa memutar balikkan waktu dan bertemu kamu tiga tahun lebih awal, mungkin yang kamu nikahi adalah aku dan bukan dia. Aku tidak menyerah, aku hanya merasa jahat karena sudah membuat hati kamu terbagi. Entah dengan apa aku bisa menebus dosaku ini sama anak istri kamu ya, Ganteng..
Aku baik-baik saja, ganteng. Mulai hari ini, aku janji gak bakal jadi alasan hati kamu terbagi lagi. Mencintai suami orang tidak pernah ada dalam impian atau cita-cita masa kecilku, tapi aku percaya Tuhan punya alasan kenapa hidup kita dibuat bersinggungan.
Efektif resign-ku besok. Jangan cari aku, ya. Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Kamu juga harus selalu baik-baik saja. Jangan males makan siang meski kerjaan lagi banyak, jangan tinggal sholat lagi ya...
I’ll miss you, handsome. I’ll miss us.

Love,
Keara


Sesuatu memanas disudut mataku. Aku tahu laki-laki pantang menangis, tapi kali ini rasanya pilu sekali. Aku mungkin memang laki-laki bajingan, suami yang tidak bersyukur, ayah yang tidak baik. Aku mencintai wanita lain, dekat dengan wanita lain, padahal statusku sudah punya istri dan satu anak.
Pertama kali dekat, Keara tidak tahu. Salahku karena ketika dia bertanya pacar, aku menjawab tidak punya sambil tertawa. Sebenarnya tidak salah, karena aku memang tidak punya pacar. Aku punya istri, oh dan satu anak yang belum genap setahun umurnya. Hingga beberapa bulan kemudian, salah satu rekan kami memberitahunya. Dia tak lantas mundur, dia tak menjauh. Dia bilang, “jangan sebut tentang istri kamu kalo kita lagi sama-sama, ya...”. Dan aku mengiyakan. Hingga dua tahun, dan sampai di hari ini.
Ah, Keara.
I’ll miss you, too... I’ll miss us, too...
Aku akan rindu rambut kamu yang selalu wangi shampoo seharian itu entah bagaimana caranya. Aku akan rindu cara kamu berbicara, tawa kamu, marahnya kamu kalo aku lupa makan siang. Aku akan rindu kamu ingetin sholat. Aku akan rindu cara kamu minum teh. Aku akan rindu dipanggil dengan nickname “ganteng” yang cuma punya kamu itu.. I’ll miss everything about you, Keara...
Smartphone-ku bergetar lagi, kali ini telepon masuk.

Mami Rahesa Calling...

Istriku.

Aku menghela nafas, menenangkan diri, kemudian menekan tombol answer.

“Iya, sayang? Oh, iya... Aku sebentar lagi pulang... Apa? Iya meetingnya udah selesai. Iya aku inget kok mau ngajak Rahesa nonton. Kalian siap-siap ya, setengah jam lagi aku sampe rumah kita langsung berangkat. Iya sayang... Okay... Dadah...”

Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini ya, Keara. Mungkin memang sudah seharusnya diakhiri.




...............................
Note : Pemanasan setelah sekian lama ga nulis cerita, abis baca cerbung Mbak Lala Purwono di Notes Fesbuk, jadi rindu nulis juga :D
Blog Design ByWulansari