12 April 2017

Begini saja

"I love you, sayang..."

Tanpa sadar mulutku mengucapkan tiga kata ajaib yang selama ini selalu meluluhkan hatimu. Berharap kali ini pun tiga kata ajaib itu akan kembali berfungsi.

Kamu diam, menatapku dengan senyum perih yang tak bisa aku artikan. Menatapku dengan tatapan penuh luka yang menghujam tepat kehatiku.

Aku mencintaimu, sayang. Pernyataan yang mungkin kau tertawakan karena aku bahkan tidak bisa melakukan apapun setelah mengatakan aku mencintai kamu. Tapi aku mencintaimu, dan entah kenapa aku merasa ga rela ada laki-laki lain yang membahagiakan kamu.

Aku mencintaimu, sungguh. Dan aku sama sekali tidak sedang bercanda dengan perasaan ini. Meski semesta nampaknya sedang bercanda mempertemukan kamu dan aku pada waktu yang tidak tepat. Kenapa sekarang, bukannya bertahun-tahun yang lalu? Kenapa sekarang... Saat cinta menjadi dosa diantara kita.

Tapi lantas aku sadar, bahwa aku adalah seburuk-buruknya lelaki yang mungkin pernah ada dalam hidup kamu. Laki-laki macam apa yang berani menyatakan cintanya padamu tapi lalu dengan tegas mengatakan tidak bisa menikahimu. Maafkan aku, sayang. Maafkan aku karena sudah memenjarakan kamu pada rasa yang tidak tahu akan berujung dimana.

"I know... And I love you, too..." jawabmu pelan, masih dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. "Tapi cinta saja ga cukup..." lanjutmu kemudian.

Kamu adalah kesalahan paling indah dalam hidup aku. Entah kebaikan apa yang sudah aku lakukan hingga Tuhan kirimkan malaikat seperti kamu padaku. Wanita  cantik dan cerdas, yang dengan sadar dan tanpa paksaan maupun todongan senjata mau mendampingi aku. Aku yang jelas jelas sudah punya istri, dan dua anak balita.

Sejak awal aku sudah tau bahwa akan ada saatnya kamu melepas genggamanmu untuk menggenggam masa depan lain yang lebih menjanjikan kebaikan padamu. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa akan sesulit ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa akan sesakit ini rasanya.

Ternyata, aku mencintaimu sedalam ini sayang...

Kamu yang selalu bisa menenangkan aku saat emosiku mulai ga stabil. Kamu yang peduli, kamu yang perhatian, yang selalu bawakan aku sarapan karena kamu tau aku gak pernah sempat sarapan dirumah. Kamu yang selalu tau dimana letak barang-barang atau berkas-berkas kantor yang aku butuhkan, bahkan kadang kamu lebih tau daripada aku sendiri.

"Sanggup ga ya aku liat kamu nanti dimiliki sama orang lain..." kataku pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

Bidadari itu meraih tanganku dan menggenggamnya, lalu berkata lembut "Kamu jangan bikin aku ngerasa jadi kayak cantik banget gini dong, ah..."

Mau tak mau aku tertawa.

"Andai aku bisa lakukan sesuatu untuk jadikan kita nyata, sayang.."

"Tuhan memang bikin cerita kita cuma begini saja. Dan begini aja aku tuh udah bahagia banget kok sayang. Makasih, ya.."

Sesuatu dibalik dadaku menghangat. Kamu memang selalu tau caranya menenangkan aku, sayang.

Ternyata begini rasanya jadi kamu selama ini ya, sayang. Menahan perasaan ga rela setiap kali melihat aku dengan istri dan anak-anakku. Ternyata berat menjadi kamu selama ini, ya...

"Sayang..."

"Yaa?"

"Semoga bahagia, ya. Kamu harus janji kalo kamu akan selalu bahagia. Karena kamu sudah selalu bikin aku bahagia..."

Bagaimana aku bisa bahagia saat separuh kebahagiaan itu sudah kamu bawa pergi, sayang... Bagaimana selama ini kamu bisa bahagia padahal rasanya sepilu ini...

"Kamu juga harus selalu bahagia, ya..."

Akhirnya, kita memang harus bahagia tanpa saling memiliki satu sama lain. Karena seperti katamu, cinta saja tidak pernah cukup.

Semoga bahagia, sayang. Bidadariku...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blog Design ByWulansari