14 Juli 2018

The Second Time : Aliza's bad Mariage (a Review)

Judul : The Second Time (Aliza's Bad Mariage)
Penulis : Demimoy
Penerbit : Twigora
Jumlah Halaman : 336++
Harga : Rp. 80.000,-

***
Blurb

Tak ada yang klise dalam pernikahan Radit dan Aliza

Aliza tak habis pikir,
Mengapa sebelum meninggal Marvel justru memintanya menikahi Radit - Sosok yang tidak dikenalnya sama sekali?
Mungkin kalau pria itu memiliki masalah ekonomi atau kekurangan fisik, dia akan sedikit memahami motivasi Radit menyetujui pernikahan ini.
Namun Radit bisa dibilang sukses dan sempurna -- terlalu sempurna malah -- hingga membangkitkan kecurigaan baru : dia pasti menginginkan sesuatu dari pernikahan ini!

Bagaikan berjalan diatas lantai bertabur beling, Aliza berhati-hati setiap kali berduaan dengan Radit. Pria itu begitu dingin dan misterius di suatu waktu, tapi bisa berubah hangat dan lembut dikesempatan lainnya.
Sulit bagi Aliza untuk menyangkal desir-desir didadanya, meskipun belum sepenuhnya yakin pada suaminya itu.

Lama-lama, kelengahan Aliza malah membuatnya terjebak pada kondisi mengharuskan membuat taruhan besar : Aliza harus belajar menerima Radit atau tak akan merasakan bahagia dalam pernikahannya.
Namun, bagaimana caranya mulai mencintai Radit?
Mampukah Aliza mempercayakan hati dan jiwanya pada suami yang masih saja terasa asing dimatanya?

***
Review

Buku ini adalah salah satu buku lainnya yang gue beli tanpa ekspektasi apa-apa. Beli bukan karena tertarik ama cover, blurb, penulis, atau apapun. Tapi ya karena sekalian beli bareng PO buku Twigora lainnya. Karena kebetulan lagi ada paket PO bareng Remuk Redam-nya Christian Simamora, dan kebetulan juga bidadari lagi nunggu hari mau melahirkan dan nyaris gila karena bosen ga ada kerjaan dirumah. Makanya banyak beli buku buat bacaan biar tetep waras. #sebuahkejujuran

Pertama kali membaca judulnya, yang ada dibayangan gue adalah buku iji bercerita tentang pernikahan Aliza yang gagal, kemudian ada kesempatan kedua hingga akhirnya Happy ending. Yaaa kurang lebih pikiran gue sih begitu.

Ternyataaaa.... Gue salah besar.

Banyak sekali teka-teki cerita yang menuntut untuk segera tahu jawabannya saat gue baca lembar demi lembar novel ini. Sejak ada bayi, waktu gue untuk baca buku sangat terbatas. Karena pas bayi bobok, gue ngantuk dan lebih milih ikut istirahat atau kalo ga yaaaa ngerjain yang bisa dikerjain. Dan kalo dia bangun manalah gue konsen baca buku. Jadi sejak ada Kalandra, gue menyelesaikan baca Remuk Redam aja sampe hampir sebulan. *yak kenapa jadi curhat ya ngomong ngomong..

Tapiiiii..  Karena gue penasaran banget sama jalan cerita dan endingnya novel ini, gue bela-belain loh nyempetin baca sambil nimang anak gue lah. Baca sambil BAB lah (kebiasaan lama yang ga sempet gue lakuin lagi sejak punya bayi karena bisa BAB dengan tenang aja udah syukur, buang jauh jauh lah niat mau sambil baca buku berlama-lama hahahaha). Gue juga nyempetin baca disela-sela anak gue tidur, dan juga baca sebelum gue tidur malem. Intinya, buku ini selesai gue baca dalam waktu seminggu. Sebenernya masih termasuk lama, ya tapi lumayan daripada sebelumnya yang bisa ampe sebulan. Hiks.

Dan kesan gue setelah beres baca buku ini adalaaaah... Too much konflik. Gue aja ampe sakit kepala. Macam cerita sinetron stripping gitu loh yang banyak banget sih masalah hidupnya si Aliza ini. Udah lah amnesia, ditinggal mati calon suami, nikah sama orang yang dia rasa asing, dijahatin sahabat sendiri, dijahatin mantan pacar suaminya, and so on, and so on. Ya Ampun bok, ribet banget idupnya si Aliza amit-amit jangan sampe kejadian ke gue. *ketok meja*

Pada beberapa lembar diawal, gue udah nebak ceritanya bakal gimana. Hanya saja gue takut terjebak karena biasanya kan selalu ada kejutan-kejutan gitu, kan. Gue menantikan plot twist yang gak kunjung ada, dan jalan cerita makin menguatkan tebakan gue. Jadi gue memaksa buru-buru baca karena penasaran apakah tebakan gue bener.

Oh trus ya.. Pada satu bagian tentang Alya yang pura-pura sakit itu mengingatkan gue pada sinetron reliji di indosiar yang jadi tontonan wajib gue sejak melahirkan. Ga ada alesan apapun, ntah kenapa demem aja nonton ginian.. Hihiiii...

Terlalu banyak konflik, tokoh, dan jalan cerita yang kata gue kayak sinetron. Ditambah lagi tempo cerita yang lumayan cepet. Bikin otak tua gue kesulitan menangkap beberapa kisah dan kudu ngulang baca supaya ngeh lagi si A ini tadi siapa, eh si B kok ada disitu. Gitu gitu, deh.

Btw, karena gue bukan pembaca Wattpad, jadi nama Demimoy beneran baru gue kenal dari novel ini.

Mengenai tampilan buku. Gue suka pembatas bukunya. Lucu berbentuk cincin gitu. Dan warna cover yang hitam legam menambah kemisteriusan buku ini. Tapi tenang aja, meski tampilannya hitam hitam horor kayaknya gitu, novel ini sama sekali ga bercerita tentang yang serem-serem. Eh, kecuali percobaan pembunuhan termasuk hal yang serem menurutmu, ya.

Dari buku ini juga gue baru tau bahwa ada kemungkinan seseorang mengalami amnesia sebagian, mengingat semua hal tapi tidak dengan semua kejadian yang berkaitan dengan satu orang. Amit-amit lagi jangan sampd kejadian ama gue, atau orang-orang yang gue sayangi. Amit-amit. Naaaah, Mungkin penulis bisa mengeksplor lagi tentang ini aja ketimbang bikin terlalu banyak konflik. Hiks. Karena terlalu banyak konflik bikin mamak-mamak macam gue sakit kepala. Hihiii..

Pada akhirnya, gue kagum pada sosok Demimoy yang (setelah baca profil penulis) ternyata masih muda (jauh banget dibawah gue) tapi udah punya karya nyata. sementara gue.... hanya menyimpan tumpukan draft yang gak kunjung diselesaikan didalan laptop. Eaaaa, curcol lagiiiiii....

11 Juli 2018

Remuk Redam a Review

Judul buku : Remuk Redam
Penulis : Christian Simamora
Penerbit : Twigora
Jumlah Halaman : 354++
Harga : Rp. 91.000,-

*
Blurb
Jatuh cinta itu gampang.
Kau bahkan tak perlu alasan untuk merasakannya didalam dirimu.
Menghangatkan jantungmu. Membuatmu tersipu.

Sedangkan mencintai, itu perkara yang lain lagi.
Kau dituntut untuk beradaptasi dan memahami. Berkorban dan mengampuni.
Dan setelah semuanya dilakukan pun, belum tentu juga cintamu akan berbuah baik.
Seringnya, kau kembali sendirian dan merasa jauh lebih buruk daripada sebelumnya.

Jadi, pesanku : jatuh cintalah... Tapi jangan kau sampai mencintainya.
Kau mungkin jauh lebih bahagia.

*
Tagline :

Jatuh cintalah...
Tapi jangan kau sampai mencintainya..

*

Adalah Olivia, pemilik butik pakaian pria yang sedang dilanda masalah besar. Butiknya sepi, omset menurun, Olivia mengalami kerugian yang menuju bangkrut. Maka dia mulai memikirkan cara agar butiknya kembali ramai pembeli. Adalah Fendi, sahabat Olivia yang menjadi sumber ide (atau justru masalah) bagi Olivia dalam memecahkan masalah butiknya.

Kemudian disitulah drama ini dimulai...

Misi Olivia untuk menyelamatkan butiknya membuat dia bertemu, berkenalan, dan punya cerita dengan Mahir dan Luc. Kisah lengkap beserta drama drama lainnya bisa kalian baca sendiri ya gue menghindari bikin reviu yang menceritakan detil isi novel karena takut malah spoiler dan bikin orang jadi ga pengin baca novelnya lagi. Hahaha. Mohon maaf nih kalo ada yang kecewa, ehem...

Gue selalu suka cara bercerita Abang yang mengalir santai, dibumbui adegan adegan dewasa, namun padat berisi dalam memporak porandakan perasaan pembaca dan bikin baper. Seriously... Gue baca novel ini sambil geregetan, gemes, dan segala macem perasaan campur aduk. Termasuk deg-degan, senyum senyum baper, terharu, sedih, bahagia, daaaan lainnya. Abang emang pinter mengaduk aduk emosi pembaca.

All men are dogs.
And women need to learn how to be a dog trainer.

Pada awal-awal cerita, akan dikisahkan bagaimana upaya Olivia demi meluluhkan hati Mahir. Saking niatnya... Tapi bukan karena cinta, semua ini Olivia lakukan demi misi mengembalikan kejayaan butiknya. Daaaan setelah sekian banyak cara dia lakukan... Surprisely, yang kecantol justru Luc. Kok bisaaa? Gimana ceritanyaaaa? Mahir itu siapa? Luc itu siapa? Sekali lagi gaes, gue ga akan cerita detil jadi mending beli dan baca bukunya sendiri yes. Yang pasti, akhirnya Misi Olivia untuk mengembalikan kejayaan butiknya berhasil.

Tapi, at least, mau Mahir ataupun Luc.. Intinya misi Olivia dalam mengembalikan kejayaan butiknya berhasil. Tapiiii bukan itu gaes yang jadi ending ceritanya. Misi mengembalikan kejayaan butik adalah pengantar menuju cerita dan ending yang sebenarnya. Daaan yaaaa seperti ala Abang biasaaa, meski si tokoh utama nolak nolak malu malu kucing gitu, endingnya tetep happy. Salah satu dari sekian banyak yang gue suka dari karya Abang karena selalu menawarkan ending yang bahagia. Jujur saja gue ga begitu suka ending sedih. Karena gue bapernya berhari-hari. Baca buku tujuannya seneng seneng kan malah jadi sedih sedih. Hahahahaha.

Mengambil tema selebgram dan endorse-endorsan gitu yang saat ini sedang HOT dan dekat sekali dengan kita-kita ya kan, membuat buku ini jadi teman santai yang asik. Strategi marketing melalui endorse selebgram dewasa ini emang lagi booming dan dirasa lebih maju dan menguntungkan. Ada yang setuju? Anak twitter mengenal istilah buzzer pada masanya. Seperti itulah cara kerja selebgram ini dalamempromosikan produk. Jadi bukan sekedar foto bersama produk trus di upload, tapi mereka bikin konten yang menarik dan seolah olah mereka ga lagi iklanin produk tsb padahal mah iya. Ngerti ga maksudnya? Hahahaa dan kenapa juga gue tiba tiba jadi bahas ginian cobak?

Kembali ke novel...

Jadi, buat kalian yang setipe ama gue dan mencari bacaan yang happy ending, novel ini bisa jadi salah satu pilihan kalian.

Bicara hal lain.. Soal tampilan buku.. Cover kali ini agak sedikit berbeda dengan novel Abang yang biasanya gambar setengah muka atau setengah badan orang. Cover kali ini ga pake gambar orang, tapi gambar tulang orang. Hihihi. Dan kertas covernya lucuk, kalo kata suami kayak kulit ular (yakali kayak dia pernah megang ular aja ye kan).

Pembatas bukunya juga kece, tiket masuk konsernya si Luc. Dengan kertas tebal jadi beneran berfungsi sebagai pembatas buku deh.. Hehehehe...

28 Mei 2018

Ubur Ubur Lembur a Review

Identitas Buku

Judul : Ubur Ubur Lembur
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagasmedia, 2018
Jumlah Halaman : 231++
Harga : Rp. 66.000,-

***

Blurb

Hal kedua yang gue nggak sempat kasih tau Iman : jadi orang yang dikenal publik itu harus tahan dengan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan asumsi yang salah. Gue kurusan dikit, dikomentarin orang yang baru ketemu, 'Bang Radit, kurusan, deh. Buat film baru, ya?' Gue geleng, "Enggak." Gue bilang, 'Emang lagi diet aja'. Dia malah balas bilang, 'Ah, bohong! Paling abis putus cinta, kan?'

Giliran gue potong rambut botak, ada orang yang ketemu gue di Mall nanya, "Wah botak sekarang? Lagi shooting tuyul dan mbak yul reborn ya, bang?" kalau udah gitu gue cuma terkekeh sambil jawab "Enggak, lagi cosplay jadi kacang sukro, nih"

Ubur-Ubur Lembur adalah buku komedi Raditya Dika. Bercerita tentang pengalamannya belajar hidup dari apa yang dia cintai, sambil menemukan hal remeh untuk ditertawakan sepanjang perjalanan. Seluruh bab di dalamnya diangkat dari kisah nyata.

***
Review

Seperti biasa, judul buku Raditya Dika masih diambil dari nama hewan. Kali ini pilihan jatuh pada Ubur-ubur. Pada cerita terakhir, yang berjudul sama dengan buku ini dijelaskan filosofi kenapa Ubur-ubur. Jadi menurut Radit, Ubur-ubur itu hewan yang lemah, lunglai, dan hanya hidup mengikuti arus. Seperti Radit yang saat itu bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan minatnya, makan dan hidup dari gaji, mengikuti perintah atasan, lembur sampai malam, dan bahkan kalo bekerja sekian kali lipat pun gaji ga ikut naik sekian kali lipat juga. Itulah alasan kenapa akhirnya dia memutuskan resign dari anak kantoran dan menulis.

Ada 14 kisah didalam buku ini, tentang persahabatan, cinta, keluarga, pekerjaan, cita cita, juga ada yang berbumbu horor. Favorite gue adalah "Pada Sebuah Kebun Binatang". Dududuuu, cerita cerita macam gini yang dulu pada masanya bikin ide menulis gue mengalir deras. Tentang kejebak friend zond gitu loh.. Kampret emang, tapi kadang ada yang sengaja diem aja biar bisa tetep temenan dan deket. Menurut gue mungkin itulah definisi sayang yang sesungguhnya. Ga peduli dia sama elo atau bukan, asal bisa dekat dia dan memastikan dia terus bahagia aja udah cukup. Cieeee...

Sayangnya... Kisah-kisah yang ditulis Radit dalam buku ini agak kurang nendang komedinya (menurut gue). Tapi bukan berarti gue ga suka. Justru gue suka karena Radit kalo udah nulis sesuatu yang gegalauan (mohon maaf bahasan mana ini ya bu dhea) tuh jleb nyessss banget. Dulu gue favorite banget ama tulisan dia tentang "orang yang jatuh cinta diam-diam", jleb gimanaaaa gitu. Nah buku yang ini pun, meski ceritanya ga cecintaan, dan tetep ada bumbu komedinya, tapi ga bikin gue ketawa ketawa sendiri, malah sebaliknya jadi bikin gue merenung karena kata-katanya dalem dan membekas (busyeetttt dalem kayak sumur kali ya).

Satu lagi yang gue favorite kan dari buku buku nya Radit sejak Marmut Merah Jambu adalaaaah.. Book mark nya yang lucuuuk banget. Berbentuk. Bukan segiempat polos biasa. Lucuuuu. Dan karena gue udah koleksi buku Radit dari dulu banget jadi gue ga tau apakah buku lamanya yang cetakan baru dengan cover baru itu book mark nya udah unyu unyu kayak gini juga apa belom.. Hihiii...

Oh gue juga suka cerita yang berjudul Ubur-ubur lemburnya. Semacam menyadarkan diri gue yang bercita-cita jadi Penulis tapi akhirnya takluk pada permintaan orang tua untuk punya kerjaan mantep. Menulis bisa sampingan, kata Papa dan Mama jaman dulu. Ga perlu dijadikan pekerjaan utama. Yang gue sesali sekarang karena sejak menjadi wanita karir (sok) sibuk, ternyata menulis jadi hal yang mahal buat gue. Bahkan untuk bikin blogpost aja gue kadang ga sempet sempet. Boro boro kan mo nulis novel sekian puluh halaman. Hahaaaa... Jadi gue salut kalo ada penulis yang punya kerjaan utama sebagai pekerja kantoran, dan penulis sebagai sampingan aja. Hebat euy...

Jangan berekspektasi terlalu tinggi untuk tertawa ngakak bersama buku ini (seperti buku Radit yang dulu dulu).. Karena nanti bakal kecewa, kayak gue. Tapi kekecewaan itu akan terbayar dengan cerita cerita "serius" penuh pelajaran ala Raditya Dika. Jadi, ga akan menyesal untuk membeli dan meluangkan waktu baca buku ini.

10 Mei 2018

Proses jadi Orang tua

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

***
Sejak hamil sampai melahirkan pada 25 April lalu, gue paham kenapa "Ibu" disebut 3 kali didalam Hadist diatas sedangkan "Ayah" hanya 1 kali. Karena perjuangan Ibu untuk menghantar kehidupan ke dunia ini luar biasa dahsyatnya.

Alhamdulillah gue termasuk yang cepat dikasih Allah kepercayaan untuk hamil. Setelah menikah, ga sempet kosong, langsung dititipin janin dalam rahim. Selama hamil juga ga bisa dibilang mudah, tapi juga ga terlalu susah. Awal hamil mual muntah ga mau makan sama sekali padahal laper, apapun yang masuk (air putih sekalipun) bakal dimuntahin lagi. Tapi tetep makan meski tau bakal dimuntahin karena lapernya itu gak nahaaaan. Belum lagi flek yang bikin panik dan harus konsumsi penguat kandungan untuk beberapa lama sampe kandungan dirasa kuat. Daaan selama hamil weekdays harus sendirian dikosan karena jauh dari suami, orang tua, dan mertua. Oh, plus PP tiap hari Linggau Rupit di weekdays dan mudik mudik naik kereta atau bis di weekend.

Alhamdulillah anak bayi dalam perut kuat. Alhamdulillah selama hamil ga ngidam yang aneh-aneh, mungkin anak bayi tau Mami nya sendirian dikosan jadi dia gak mau ngerepotin. Alhamdulillah setelah flek di awal-awal, abis itu udah baik-baik aja. Alhamdulillah Mami masih bisa kerja sampe UK udah 37 weeks, masih ngaudit, masih Dinas luar, masih begadang begadang bikin laporan. Alhamdulillah.

UK 37 weeks gue udah gak kerja lagi. Padahal maunya mepet-mepet HPL aja baru pulang. Soalnya kalo dirumah nanti ga banyak gerak, kalo dikantor kan mondar mandir antar ruangan kan lumayaaan. Hiihiii. Tapi suami khawatir karena gue sendirian dikosan, dan juga ibu hamil diatas 28weeks udah ga boleh naik kereta lagi. Jadi disuruh pulang, istirahat dan persiapan dirumah mama.

Setelah dirumah, drama dimulai. Diawali dengan pinggang kiri sampe ke betis sakit dan gak bisa digerakin apalagi dipake buat jalan. Lalu bengkak pada telinga kiri bawah sampe demam tinggi. Dan berakhir dengan anak bayi yang gak kunjung ngasih tanda-tanda mau keluar padahal udah makin deket HPL...

Sesuai HPHT, HPL gue adalah 22 April. Dari awal emang anak bayi di sugesti kalo mo lahiran tunggu Papi nya pulang, atau tunggu ada Opa. Soalnya dirumah ga ada orang yang bisa nganterin Mami ke RS. Mungkin itu kenapa anak bayi ga kunjung ngasih sinyal mau keluar padahal udah makin deket HPL. Sampe papinya datang, 21 April, perut Mami mulai rasa-rasa gak nyaman. 22 April pagi masih ke pasar beli sprei sama Oma dianterin Papi.. Pulangnya sampe rumah pas mau pipis ternyata ada flek di celana dalem. Langsung kasih tau oma. Seharian itu flek nya terus keluar meski emang ga banyak. Nanya ama bidan tetangga, itu emang salah satu tanda mau melahirkan tapi belum jadi tunggu aja. Tapi suami khawatir, jadi malemnya dibawa ke UGD untuk diperiksa. Ternyata emang belum ada bukaan, tapi mulut rahimnya udah tipis banget. Ya udah pulang lagi kerumah dan suami bilang besok pagi kontrol ke dokter SPOG nya aja.

Besoknya, 23 April, ditemenin suami, gue kontrol ke dokter SPOG. Kontrol sebelumnya emang udah buat janji untuk dateng lagi tanggal 24 April kalo emang sampe HPL belum melahirkan. Tapi karena udah flek, jadi kontrolnya dimajuin sehari. Di USG, bayi nya emang udah dibawah banget, terus ama dokternya di "cek dalam" dan ternyata masih belum ada bukaan. Gue emang belum merasakan kontraksi sih, cuma karena udah flek jadi khawatir. Dokter bilang air ketuban masih jernih dan banyak, lalu mulut rahim pun udah sangat tipis jadi dokter menyarankan untuk tunggu 1-2 hari agar bisa melahirkan normal. Karena kandungan gue ga bermasalah, bayi tidak terlilit tali pusat dan posisi sudah dibawah, dan ketuban masih cukup makanya dokter tidak menyarankan operasi.

24 April diawali dengan bangun tidur dan perut mulas melilit kayak di remas-remas. Akhirnya gue tau begitu ternyata yang dinamakan kontraksi. Rentang sakitnya masih jauh, sekitar 30-40 menitan, jadi Oma bilang banyak jalan-jalan biar cepet bukaan. Sampe siang ditungguin sakitnya masih gitu gitu aja, tapi suami mulai panik jadi akhirnya siang itu dibawa ke UGD lagi. Sampe UGD dilakukan "cek dalam" lagi dan hasilnya tetap sama, belum ada bukaan tapi kepala bayi udah kerasa saking mulut rahimnya udah tipiiis banget. Bidan yang meriksa bilang suruh kontrol ke dokter SPOG nya sore ini atau besok pagi. Akhirnya sekali lagi pulang dari UGD dan memutuskan untuk kontrol ke dokter besok pagi.

Semaleman gak bisa tidur karena kontraksi yang muncul makin sering. Suami ikutan ga bisa tidur karena tangan dan badannya gue remas hahahaha. Dia juga bingung mau gimana, jadi yang bisa dia lakukan cuma memeluk gue dan bilang "istighfar aja ya sayang, nanti pagi kita ke dokter". Dan pelukan dia memang selalu mampu menenangkan gue :')

Rabu, 25 April, setelah semaleman ga tidur dan pagi ini sakitnya makin parah sampe udah bikin gue ga nafsu makan dan nangis-nangisan. Iya, gue emang ga kuat dengan rasa sakit. Sakit apapun ya termasuk sakit hati ahahahahaha. Akhirnya memaksa diri mandi dan sarapan sambil nahan kontraksi yang datang berulang kali. Terus jam 9 an langsung menuju klinik tempat praktik dokter SPOG nya. Alhamdulillah antrian ga panjang, nunggu bentar terus masuk ke ruang periksa. Pas liat gue masuk, dokternya langsung nebak bahwa gue udah sakit sakit karena ekspresi muka gue ga bisa menutupi itu. Hahahaha. Dokter melakukan USG dan emang udah susah karena posisi kepala bayi udah sangat dibawah, pun begitu dilakukan "cek dalam" ternyata udah bukaan 1. Alhamdulillah... Meski agak kaget sih, udah sesakit itu ternyata baru bukaan 1.

Dokter ngasih rujukan dan nyuruh gue langsung ke RS agar bisa dirawat dan dilakukan pemantauan, karena gue sudah lewat dari HPL. Gue nurut. Dan emang udah ga sanggup kalo kudu nunggu dirumah dan bolak balik RS ngecek bukaan udah berapa. Lagi pula suami pasti khawatir liat gue sakit sakit. Jadi di RS adalah pilihan yang aman.

Begitu sampe RS, langsung di pasang infus, diambil sampel darah dan dilakukan perekaman detak jantung. Setelah itu langsung masuk ke ruang tindakan. Masih sempet makan disuapin suami dan ngobrol ngobrol random di sela nahan kontraksi yang makin sering. Bidan yang bertugas bilang bahwa observasi dilakukan sampai jam 4 sore (saat itu baru jam 11 pagi), kalo sampe jam 4 belum melahirkan juga atau bukaannya ga bertambah, maka akan diambil tindakan induksi. Bidannya bilang memang agak lebih sakit daripada kontraksi normal, tapi akan mempercepat proses bukaan. Gue, suami, dan Oma menyetujui mana yang terbaik aja. Meski suami gue udah ketakutan karena kakaknya meninggal melahirkan setelah kehabisan tenaga karena diinduksi.

Jam 4, bukaan gue masih mentok di 1 aja. Bidan nelpon dokter buat konfirmasi, dan diputuskan untuk mengambil tindakan induksi melalui infus. Awal disuntikkan obat dari infus gue belum merasakan apa-apa, tapi sudah siap-siap dengan rasa sakitnya. Sekitar 10 menit kemudian kontraksi yang maha dahsyat mulai terasa. Awalnya gue masih bisa menahan dan beristighfar, semakin lama semakin sakit dan gue ga taha. Mulai lah drama jejeritan, nangis kejer, muntah dua kali, tangan Oma diremas-remas, dan suami yang gak berhenti mengusap pinggang istrinya yang rasanya mau lepas. Menurut bidan yang bertugas, jam 8 akan dilakukan pengecekan bukaan lagi. Saat itu baru setengah 5 dan gue rasanya udah mau putus nyawa.

Selama rentang obat induksi bekerja sampe jam 8 malem itu, ruang tindakan penuh dengan tangisan gue. Berkali-kali gue ngomong sama Oma dan suami bahwa gue udah gak sanggup. Tenaga benar-benar terkuras habis nahan sakit. Oma bacain doa, ngajak gue istighfar. Sementara suami udah pucat ketakutan. Dokter bilang kalo induksi pertama melalui infus ini gagal, maka akan dicoba induksi kedua melalui obat yang dimasukkan ke jalan lahir, kalo masih gagal juga baru lewat suntikan. Tapi melihat gue yang sudah ga kuat, suami bilang kalo induksi ini gagal maka operasi aja. Suami bilang, "Melahirkan normal atau operasi sama aja, yang penting Mami dan Kakak sehat selamat...", dan gue nangis makin kenceng...

Empat jam yang rasanya kayak empat ratus ribu tahun saking lamanya. Kontraksi yang dahsyat ga putus-putus. Gue diajarkan untuk atur nafas agar sakitnya mendingan dan yang paling parah adalah gue belum boleh "ngeden" meski dorongan untuk ngeden itu kuat banget. Tapi gimana ya Allah, masih bisa bernafas aja udah alhamdulillah.. Eh malah disuruh atur nafas. Dilarang ngeden padahal pas kontraksi ada di puncak dan sakitnya dahsyat banget, ngeden adalah salah satu cara mengurangi rasa sakitnya. Ibu ibu yang pernah lahiran normal pasti paham maksud gue...

Ketika akhirnya bukaan lengkap, tepat jam 8 malem sesuai perkiraan, dan dokter udah nyampe ruang tindakan.. Gue udah boleh ngeden. Disini drama lain dimulai... Pas kontraksi dateng, gue malah ga pengen ngeden. Udah gitu instruksi dari dokter dan bidannya banyaaak banget. Ga boleh mejem, gigi dirapatkan, tangan menahan paha, mata liat ke perut, blablabla... Cemana pula gue mau mengaplikasikannya sementara yang ada diotak gue adalah gimana caranya anak bayi cepet keluar, sehat dan selamat biar kontraksinya segera berakhir. Satu jam lebih, tenaga gue makin habis dan gue sudah ga kuat lagi. Dokter dan bidan panik karena detak jantung bayi makin cepat tanda bayi kekurangan oksigen karena terlalu lama di jalan lahir, akhirnya gue dipasangkan oksigen. Pikiran gue udah kemana-mana. Oma yang saat itu mendampingi gue pun udah nangis ga karuan. Akhirnya diputuskan untuk ambil tindakan Vaccum. Karena gue bener bener sudah kehabisan tenaga untuk ngeden dan bayi ga kunjung keluar padahal udah dibantu dorong ama bidan. Suami dipanggil masuk, dia masuk dengan muka pucat. Mungkin dia pikir salah satu dari kami (istri atau anaknya) ada yang gak selamat. Dokter jelasin dikit tentang Vaccum yang gue yakin ga dia dengarkan dengan baik karena dia takut gue dan atau anaknya kenapa-kenapa. Dia cuma bilang ke dokter, "lakukan apa saja dokter biar istri dan anak saya selamat". Saat itu, gue merasa kematian begitu dekat dan gue rela kalau harus ga selamat asalkan anak gue terlahir dengan selamat.

Setelah suami tandatangan persetujuan Vaccum, tindakan segera dilakukan dokter. Dan ga sampe satu menit anak gue lahir, tangisnya yang keras melegakan kami semua yang ada diruang tindakan. Oma langsung mengucap syukur berkali-kali, dokter dan para bidan namlak lega, suami dipanggil masuk, dan bayi mungil yang berhasil gue lahirkan dengan selamat itu diletakkan diatas badan gue, dia menangis kencang. Gue pun ikut menangis. Hilang sudah semua rasa sakit yang gue rasakan sebelumnya. Berganti haru dan kelegaan yang luar biasa karena tahu anak gue sudah lahir, sehat, selamat, lengkap ga kurang satu apapun. Alhamdulillah...

Lalu dokter melakukan tindakan pasca melahirkan ke gue sementara anak gue dibersihkan. Gue melihat bayi yang terus saja menangis kencang itu dari kejauhan sementara bagian tubuh gue yang sobek dijahit sama dokter. Sudah ga ada rasa sakit lagi, sama sekali. Gue udah bisa ngobrol-ngobrol becandaan sama dokter dan para bidan. Oma mendampingi bidan yang membersihkan anak gue sementara suami mengurus segala administrasi.

Alhamdulillah... Setelah hampir 41 minggu menjaga kandungan sebaik yang gue mampu, akhirnya anak bayi lahir dan kami punya status baru yaitu orang tua. Alhamdulillah anakku sehat, terlahir selamat meski dengan begitu banyak bantuan medis, dan lengkap tanpa kurang satu apapun.

Alhamdulillah.. Anak laki-laki pertama yang kami beri nama, KALANDRA ALDEBARAN ARRAZI. Semoga Mami dan Papi mampu menjadi sebaik-baiknya orang tua bagimu ya, Nak... Senoga kau selalu bahagia, dan disayang banyak orang. Aamiin...

Kalo ditanya apakah gue mau punya anak lagi? Untuk saat ini jawaban gue NGGAK. Hahahaha. Traumaaaaa sama sakit dan segala prosesnya. Tapi kalo pun kelak mau kasih Kalandra adik, mungkin gue akan memilih opsi operasi aja untuk melahirkannya. Yaaaa pokoknya ntar ntar deh mikirnya, sekian tahun lagi. Hahahahaha.

17 April 2018

Baby Daddy a Review

Identitas Buku

Judul Buku : Baby Daddy
Penulis : Dahlian
Penerbit : Twigora
Jml Halaman : 424
ISBN : 9-786026-113887
Harga : Rp. 94.000,-

*

Ketika aku mempertanyakan cinta, kau hadir sebagai jawaban...

*

Sebenarnya, gue bukan pembaca karya-karya Dahlian. Hanya saja beberapa kali beli bukunya ga sengaja seperti misalnya kali ini karena sekalian PO beberapa buku terbitan twigora. Buku pertama doi yang gue baca adalah Promises Promises. Lalu Baby Proposal, dan kemudian Baby Daddy ini. Satu benang merah yang selalu gue dapatkan setelah membaca tulisan Dahlian adalah, tema yang dia angkat selalu tentang bayi. Seorang cewek yang pengen punya bayi tapi ga mau nikah, atau tentang seorang cewek yang hamil diluar nikah tapi pas mau ditanggungjawabin gak mau... Pokoknya sejenis sejenis itu yang berhubungan dengan bayi. Begitupun Baby Daddy ini.

Sejujurnya saja, gue mulai mengharapkan doi menulis tema lain... Yang jauh jauh deh dari Bayi atau sejenisnya ini. Karena gaya menulis Dahlian sangat enak dibaca dan mudah dipahami, sehingga gue pengen baca tulisan dia dalam tema cerita yang lain. Jangan bayi-bayian mulu karena malah bikin semacam bosan dan alur ceritanya jadk ketebak gitu.

Tapi... Mungkin emang masing-masing penulis punya satu tema spesialis yang selalu menjadi benang merah tulisan mereka kali, ya? Kayak ada salah satu penulis lain yang kalo nulis novel mestilah menggambarkan tokoh utama cewek yang punya pekerjaan lebih mapan dari tokoh utama cowoknya. Emang sihhhh jalan cerita dan masalah masalah didalam novelnya beda beda, tapi dengan tema yang selalu sama kayak gitu gue sebagai pembaca banyak maunya dan gampang bosen ini malah ngerasa bosen. Hiks.

Ehtapi gue jadi penasaran, deh. Penulis penulis yang punya spesialis tema gini apa emang itu yang sedang terjadi dikehidupan nyata mereka apa gimana, ya?? Hmmm...

*seperti gue juga sih yang kalo nulis cerpen atau sejenisnya (karena udah lama ga mood nulis yang panjang panjang kayak novel) temanya biasanya yang lagi deket aja ama hidup gue saat itu. Kalo lagi nulis tentang cinta ga kesampean, nulis tentang ituuuuu terus. Kalo lagi nulis tentang selingkuh, ituuuuu ajaaaaa terus yang ditulis. Tokoh dan cerita beda beda, tapi tema itu mulu. Aahahahahahah.

Back to Baby Daddy... Novel ini cukup menghibur dan mengisi waktu luang gue sebagai ibu hamil yang udah izin ga masuk kerja dan ga kunjung melahirkan... Ceritanya ringan, sehingga bacanya ga perlu pake mikir berat. Maklum ya, otak tua gue selalu males kalo baca novel yang berat-berat. Seperti tang udah gue bilang di awal, bahwa gue menikmati cara bercerita Dahlian dalam setiap novel doi yang gue baca, begitupun pada Novel ini. Hanya saja, begitu sampai di ending, agak menyisakan perasaan menggantung dan banyak banget tanda tanya di kepala gue. Terutama tentang anaknya si mama Kay itu. Jangan jangan itu Bramasta. Nah loh, kalo iya berarti Kay ama Bram sodaraan dong? Hahahaha. Bumil mikirnya terlalu jauh sih tapi ntah kenapa poin ini cukup mengganggu buat gue. Fakta tentang Mama Kay yang Kay ceritakan di akhir justru jadi semacam pertanyaan gitu. Bisaaa nih jadi ide untuk Next Book nya Dahlian, sequel Baby Daddy, tentang kisah masa lalunya Mama Kay. Hihihiiii...

Penokohan Kay dan Bramasta juga menurut gue sudah cukup kuat. Cukup kok untuk bikin gue bisa membayangkan bagaimana sosok mereka berdua. Tapi memang tempo bercerita novel ini agak slow di awal tapi lalu ngebut di belakang. Awalnya nyantai, pas mau abis mulai banyak tokoh-tokoh baru dan cerita-cerita baru masuk berjejalan..

Pada akhirnya... Menurut gue, Baby Daddy bisa kamu jadikan pilihan sebagai bacaan santai untuk mengisi waktu luang.. Ada label D pada cover novel ini yang menunjukkan bahwa novel ini adalah konsumsi mereka yang sudah Dewasa, tapi tenang saja ga ada adegan dewasa yang bikin nafas ngos-ngosan didalamnya. Jadi masih terbuka dibaca siapa saja, tapi emang lebih cocok buat dewasa karena cerita dan konflik didalamnya mah tergolong berat buat dipahami anak bawang. Hehehehe...

Oh.. Dan btw, gue jadi penasaran dengan karya Dahlian yang Accidental Father. Ada yang udah baca?

15 April 2018

GIVEAWAY ALERT!!!!



 Halloooo semuanya,

Setelah membaca wawancara gue dengan Abang Christian Simamora dan juga Reviu gue tentang His Newest Book "Burn Baby Burn", postingan kali ini gue mau ngadain giveaway ala-ala yang berhadiah satu buah novel Burn Baby Burn yang akan dikirimkan langsung oleh penerbitnya @twigora

Karena ini adalah kali pertama gue mengadakan giveaway macam ini, jadi tenang aja syaratnya gak bakalan susah-susah kok. Giveaway ini bisa diikuti oleh siapa saja, baik yang sudah punya bukunya Abang ataupun yang belum. Tanpa batasan umur, pekerjaan, gender, dan lain lain. Heheheheh.

Syarat-syaratnya untuk mengikuti giveaway ini adalah ......

1. Untuk berpartisipasi dalam Giveaway ini hal pertama yang harus kalian lakukan adalah Follow Instagram gue @dheaadyta , Abang @xsimamora , dan penerbit @twigora
2. Like postingan terbaru di Instagram gue tentang Giveaway ini
3. Berikan gue satu nama cowok berawalan huruf 'K' (tapi jangan Kyrian, yes... Hahahaa). Yang unik, lucu, gak pasaran, dan punya makna atau arti yang bagus. Gue akan lebih menyukai nama yang tidak sulit untuk dieja, tapi tetap terkesan menarik.
4. Tulis jawaban kalian pada kolom komentar di postingan instagram gue tentang giveaway ini.


Contoh jawaban :
Kala artinya Matahari.

Gimanaaa.... mudah, kan???

Giveaway ini akan dibuka selama satu minggu, mulai 15 April 2018 s.d 22 April 2018. Pengumuman Pemenang akan dilakukan tanggal 23 April 2018 pada Instagram Gue @dheaadyta (That's why kalian harus follow instagram gue walaupun isinya banyakan foto narsis ga penting gue sih, heheheheh)

Pssttt... Berikan ide nama cowok berawalan huruf 'K' yang bagus, yah. Karena saat ini gue lagi hamil Gede dan menunggu kelahiran anak pertama, siapa tau ide kalian bisa gue jadikan nama anak gue gak sekedar nama tokoh novel doang. Hehehehehe....

Sekian dan terimakasih.
Selamat mengikuti Giveaway dan semoga beruntung!!!

Blog Design ByWulansari