22 Februari 2017

Drama 1 - Hunting Gedung



Hal pertama yang kita lakukan dari rangkaian wedding preparation ini adalaaah.... cari dan booking gedung! Karena, gimana mo nyiapin yang lain-lainnya kalo gedung aja belum dapet. Dan karena nikahnya direncanakan pada bulan musimnya (apadeh), maka dikhawatirkan tanggal yang kita mau itu gedungnya ga ready. Jadilah kita mulai hunting dan survei-survei gedung. Kita disini maksudnya gue dan mamah, karena calon suami gue pasrah dan nurut aja maunya dimana dan gimana-gimananya.

Ada beberapa yang jadi pertimbangan gue mengenai pemilihan gedung. Pertama, gedungnya ga jauh dari rumah. Karena kalo jauh, kebanyakan tetangga males dateng. Kedua, parkirnya luaaaaaas. Pengalaman kondangan yang sudah dapet parkiran itu bikin bete. Ketiga, gedungnya mudah dicari atau ga jauh dari jalan raya karena mempertimbangkan teman-teman kantor gue dan kantornya ayank, atau keluarga yang ga berdomisili di prabumulih, supaya ga repot mereka cari-carinya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, dari sekian banyak gedung yang ada di Prabumulih, pilihan menyempit menjadi tiga gedung. Gedung Zipur, Ballroom Hotel South Sumatera, dan Aula Hotel Grand Nikita. Kemudian survei dimulai...

Gedung pertama yang kita survei adalah Ballroom Hotel South Sumatera. Survei ini bareng sama ayank dan mamah. Karena kebetulaaaaan banget ada tetangga yang nikahin anaknya disitu. Jadilah kita survei gedung berkedok kondangan. Hihiii. Gue suka karena ruangannya luas, dindingnya berbatas kaca sehingga ga bikin berasa sumpek. Ada area kolam renang yang bisa dipakai untuk tamu yang merasa bosan didalam ruangan. Parkirnya luaaaaaas banget. Letaknya dipinggir jalan raya dan gampang banget dicari. Dan setelah kita tanya kepada manajernya, ada paket pernikahan yang mereka tawarkan sudah include pelaminan dan orgen tunggal, juga kursi dan beberapa tenda untuk diluar. Harga yang ditawarkan pun sedang harga diskon karena masih bulan promosi. Daaaaan harganya cukup mahal untuk kami, sebenernya. Tapi gue, ayank, dan mamah mulai mencatat-catat kedalam list.

Survei gedung kedua dan ketiga gue ga ikut karena kerja. Jadi mamah sama papah aja yang kesana. Tapi gue sudah beberapa kali dateng acara nikahan temen yang pake dua gedung itu, jadi gue udah tau kondisi gedung dsb dsbnya. Urusan tanya harga, fasilitas, dsb... Mamah dan Papah yang turun tangan. Gue cuma tunggu kabar by phone dan bbm aja.

Hasil survei Gedung Zipur... Pihak yon zipur tidak bisa memastikan apakah gedung tersebut bisa kami pakai pada tanggal yang kami mau atau tidak, karena mereka harus memastikan ketersediaan gedung terlebih dahulu dan meminta izin kepada komandan. Gedung ini memang jarang disewakan untuk acara pernikahan. Tapi gue suka karena deket banget sama rumah dan parkirnya luas. Meskipun disini beberapa kali kondangan, ruangannya terkesan sumpek. Masalah harga, ternyata cukup mahal. Karena harga sewa yang diberikan hanya sewa gedung saja, kosong. Tanpa kursi, tenda tambahan, kipas angin, pelaminan, dsb. Setelah dihitung kasar sama mamah, kalo mau pake gedung ini, maka biaya yang dibutuhkan bisa 2x lipat dari biaya di South Sumatera. Ditambah lagi, pihak gedung belum bisa memastikan ketersediaan gedung. Okeh. Gedung Zipur coret dari list.

Besoknya mamah dan papah mendatangi Hotel Grand Nikita. Sebenarnya gue ga begitu suka disini karena masalah parkir. Tapi menurut mamah ga masalah nanti diatur aja parkirnya. Dan syukurnya setelah disurvei harga, harga sewa aula kecil saja (kosong tanpa kelengkapan dan fasilitas apa-apa, cuma free satu kamar hotel kalo ga salah) itu hampir setengah harga ballroom hotel south sumatera yang udah include macem-macem. Jadi... Grand Nikita juga coret dari list.

Akhirnya, pilihan jatuh pada yang pertama. Mamah balik lagi ke Hotel South Sumatera untuk bertanya detail dan sebagainya. Setelah pertimbangan yang matang, dan karena pada tanggal yang gue mau belum ada yang booking, jadilah Mamah booking Ballroom Hotel South Sumatera tsb untuk acara gue dan ayank nanti.

Alhamdulillah, urusan gedung beres. Satu-satunya gedung yang gue dan ayank survei barengan ternyata jadi gedung yang akan kami gunakan pada saat resepsi pernikahan kami kelak. Alhamdulillah drama nyari gedung ga begitu panjang, dimudahkan, dan memang karena masih jauh hari banget jadi gedungnya masih kosong pada tanggal yang gue mau...

Sekarang.... Apalagi, ya?
8 Februari 2017

Prolog of Wedding Preparation



Hai, Hai... Hallooooo....

Akhirnya memulai nulis tentang Wedding Preparation. Dari dulu dulu duluuuuu banget, pengennya kelak kalo lagi persiapan nikah, mau bikin blog khusus cerita tentang persiapan pernikahan. Dari awal sampe akhir persiapan dijelasin atu-atu. Selain sebagai pengingat kelak dihari tua, juga sebagai referensi bagi yang suka searching kayak gue. Hahahaha. Tapi apalah daya ibu auditor newbie ini yang tinggalnya di dusun dan dikostan belum mampu pasang wifi, sementara wifi kantor rebutannya macam apa aja. Belum lagi kesibukan di akhir dan awal tahun yang lebih-lebih bankir bikin ga sempet ngapa-ngapain selain kerja (gayanyaaaa kaaaan....). Jadi yasudahlah, gabung di blog ini aja tapi diberi tag “Wedding Preparation”.

Bismillaaaaah ~

Jadi, akhir oktober lalu, si ayank bawa keluarga besarnya main kerumah prabumulih... ketemu mamah sama papah... dan secara khusus meminta bidadari untuk jadi istrinya... Alhamdulillah... Setelah sekian tahun pacaran yang saking lamanya ampe dibilangin kalo kredit mobil udah lunas kreditannya, haha. Setelah sekian banyak drama, diterjang badai, diterpa angin... Akhirnya dilamar jugaaaaa!!! Masih ada yang berani bilang wawan macarin dhea cuma becandaan doang? Masih???? *sengaja di bold*

Dari dilamar akhir oktober, kita merencanakan tanggal pernikahan yang lumayan lama. Hehehehehe. Setelah lamaran, banyak banget yang ngira kita nikahnya deket-deket itu ternyata pas dikasih tau tanggal rencana malah pada kaget. Entah apa-apa aja yang jadi pertimbangannya dhea ama wawan pokoknya setelah perundingan maksimal antara dua keluarga, diputuskan nikahnya pada bulan "tiiiiit" (disensor). Insyaallah itu udah waktu yang tepat untuk kita berdua,. Insyaallah semua urusan yang harus kelar sebelum nikah, udah kelar sebelum tanggal itu. Insyaallah semua persiapannya gak buru-buru jadi gak bikin repot karena kita semua berjauh-jauhan. Ga cuma dhea ama wawannya yang jauhan. Tapi kita berdua dengan keluarga masing-masing. Dan masing-masing keluarga kita juga jauhan. Hehehe.

Sampai detik ini, setiap kali ngurusin persiapan pernikahan, masih berasa kayak mimpi. Ga percaya akhirnya sampe juga ditahap ini. Sama ayank, semuanya memang terasa indah dan kayak mimpi. Jangankan persiapan pernikahan ini, bisa ada sama dia selama ini, kuat ama bisikan jahat yang ga cape-cape dateng, dan bisa dia sayang banget kayak gini tuh rasanya indaaaaah banget dan kayak mimpi. Heheheheee lebaaaaayyyy yaa :p

Baiklah... Sekian postingan pembuka ini. Insyaallah setelah ini gue akan bahas berurutan persiapa yang udah fix atau bahkan udah done. Jangan bosyen aja, jangan cemburu bacanya, jangan bilangin gue lebay yaaaa... hehehehehe.... Eh iya, Fyi aja, sampe gue nge-post tulisan ini, 5 month left, wedding preparation gue paling baru 15 persen. Hahahahahhaha. Pusinggg. Pusiiiiiiiing....
19 Januari 2017

Certified Auditor

Kirain setelah dosen penguji skripsi menyatakan gue lulus sidang, dan rektor mindahin kuncir toga, maka segala jenis ujian dalam hidup berakhir...

Ternyataaaaaaah....

Drama dimulai saat ikut ujian CPNS dari formasi umum. Belajarnya lebih lebih mau persiapan ujian nasional jaman SMA dulu. Dengan kapasitas otak yang makin ga mampu diajak nginget banyak, maksain belajar dan ngafal macem-macem. Alhamdulillah, lulus. Kirain beres....

Ternyata masih belum.

Waktu daftar CPNS, sejujurnya gue ga ngerti dengan formasi yang gue pilih. Apa itu fungsional apa itu struktural. Yang gue tau cuma formasi untuk s1 Akuntansi ada banyak. 18 orang. Udah itu aja. Ntah forjabnya apa, dikantor apa, dsb dsb nya gue gak gitu peduli. Ternyata jadi CPNS dengan formasi jabatan Auditor Pertama dan unit kerja Inspektorat itu berat.

Sebulan masuk, dijejelin banyak materi. Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, SAP berbasis akrual, sekian macem permenpan-RB, permendagri, permenkeu, undang-undang. Belum lagi perbup-perbup. Ya Allah... Untuk ukuran orang yang ga pernah jadi TKS atau honorer dan punya basic eks swasta kayak gue, rasanya pingin nyebur ke sungai aja daripada belajar macem-macem hal yang gue gak paham sama sekali. Beraaaaatt...

Setelah itu ternyata kita semua harus ikut Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa. Belajar lagi, persiapan ujian lagi... Persaingan dikantor gue dahsyat. Kalo ga lulus, di-bully. Maka kali ini, keinginan lulus adalah bukan karena mau punya keahlian dibidang tsb, tapiiiii demi harga diri. Dan alhamdulillah, setelah perjuangan usaha dan doa, bidadari lulus sertifikasi pengadaan barang dan jasa ini. Alhamdulillah.

Udah selesai ujiannya? Belum!

Ujian sesungguhnya baru dimulai akhir tahun 2016 tadi. Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor. Harus lulus krn formasi jabatan di SK gue adalah auditor. Harus lulus karena lagi-lagi ini masalah harga diri. Harus lulus karenaaaaa insentif fungsional auditor itu lumayan. Ehem.

Euphoria belajar, ujian, dan nunggu pengumuman Sertifikasi Auditor ini lebih lebih pas test CPNS atau Ujian Nasional dulu. Tiap hari baca buku, kemana-mana nenteng buku, hape penuh sama materi pelajaran, diskusi dan kerja kelompok tiap hari. Maksimaaaallll usahanya...

Hari ini, setelah tiga bulanan, pengumuman keluar. Alhamdulillah LULUS. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Sesuai dengan harapan. Tinggal nunggu dilantik Bupati aja terus resmi jadi Auditor Intern Pemkab Musi.Rawas Utara.

Bismillah... Semoga kedepannya kelak amanah dg jabatan baru, dijauhkan dari godaan fraud, tetap rendah hati, dan semoga semua ini tidak menjadi penghambat urusan bidadari dikemudian hari. Aamiin.

Thank you, God. Yang harus dea selesaikan sebelum menikah lunas semua sudah. Makasih sudah atur segala sesuatunya dengan baik, ya Allah. Bidadari bahagia ~

1 Januari 2017

Resolusi 2017

Karena 2016 udah lewat tanpa terasa, dan hari ini udah 2017.. seperti kebiasaan beberapa tahun ini, hari ini bidadari mau bikin resolusi ala-ala... meski sebagiannya melanjutkan resolusi tahun lalu yang belum kesampean sih.. hahahahaaaa

Tahun ini, yang ditunggu itu pengumuman ujian sertifikasi auditor.. karena sudah usaha, sudah berdoa... sekarang tinggal nunggu hasilnya. semogaaaa sesuai harapan. LULUS. dan lekas dilantik kepala daerah. karenaaaaa ga munafik, bidadari butuh insentif as an auditor untuk memenuhi salah satu resolusi tahun ini. hahahaha

Menikah.. Bismillah, semoga lancar, semoga dimudahkan... Dijauhkan dari segala jenis godaan dan halangan yang akan menghambat. Aamiin.

Liburan. Beneran, bidadari butuh piknik. 2016 ga liburan sama sekali. Not to mention tamasya sama adek-adek ya. I need a real holidaaay. Ke pantai kek, kemana kek... Tahun 2017 ini mudah-mudahan punya banyak rezeki dan kesempatan untuk liburan. Yang jelas sih, Honeymoon yaaaa... Hihihiiii

Ajak mamah, papah, dan adek-adek mudik ke Bangka... Karena mamah udah pingin banget tapi belom belom kesampean. Insyaallah tahun ini kita berangkat ya, mam! Doain mbak rezekinya banyak. Aamiin...

Hamil. Ga mungkin resolusi tahun ini udah punya anak karena nikahnya aja bukan di awal tahun. Jadi tahun ini semoga sudah dikasih kepercayaan untuk jadi Calon Ibu. Aamiiiiin...

Beli handphone baruuuu. Hape yang sekarang dipake sebenernya belum rusak. But, I hate cause this phone is always full storage. Padahal isinya ga seberapa. Tapi karena emang RAM nya kecil sih. Jadi, tahun ini mo beli hape baru...

Beli springbed... resolusi tahun lalu yang belum kesampean karena lebih memilih beli mesin cuci duluan. Hahahahaha...

Nerusin draft-draft terbengkalai di laptop yang udah dari kapan tahun jadi draft tapi ga diterus-terusin...

Ngirim naskah ke Penerbit, resolusi tiap tahunan juga yang ga pernah di realisasikan sejak terakhir 2011.. Bhahahahahaa...

Lebih banyak beli dan baca buku lagi, Lebih rajin nge-blog yang bermutu lagi (maksudnya bukan ngeblog curhatan doang gituuu)...

Beli mobil. Karena setelah menikah jaraknya jauh-jauhan dan transportasi ga mudah, jadi beneran butuh mobil biar gampang. Biar gampang belanja mingguan ke linggau juga. Biar kalo udah nikah dan hamil, ga was-was kemana-mana naik motor (gayanyaaaa yaaaa).. that's why I need insentif as an auditor bhahaahahahahaa

Naikin berat badan beberapa kilo lagi... Karena beberapa bulan trakhir ini udah sukses naikin berat badan sekian kilo, dan masih butuh beberapa kilo lagi...

Latihan banyak banyak makan sayur... Tahun 2016 sudah mulai makan sayur yang ga warna ijoo.. Tahun ini mau latihan banyak makan sayur...

Ibadah lebih rajin lagi. Ngurangin mainan socmed. Ngurang-ngurangin nyela orang, cuma gimana yaaaa banyak banget yang bikin pengen nyela mahhh... Hahahahha...

Sisanya... Biar Allah kasih semua yang baik-baik menurut-Nya..

Selamat tahun baru 2017...

31 Desember 2016

kaleidoskop 2016

Makin kesini, waktu makin cepeeeeet banget berlalu... 2016 means a lot for me... Terlalu banyak hal indah yang terjadi, sampe kadang mikir kayak lagi mimpi.. Dan seperti biasa, disetiap akhir tahun, bidadari mau bikin kaleidoskop ala-ala. Sekedar merangkum apa saja yang sudah terjadi pada gue setahun ini...

Januari :
1. dikasih (calon) mamah mertua bahan kebaya untuk seragam nikahannya kak andi...
2. sebagai permulaan, after years, dhea ama wawan udah mulai bahas perintilan-perintilan menikah... undangan, souvenir, pilihan warna, blablabla...

Februari :
1. Akhirnya memutuskan bikin rekening tabungan baru, non-ATM.. yang diisi berdua ama ayank untuk segala keperluan menikah. Well, ternyata biaya menikah untuk mahaall... hahahaha
2. Ayank udah dilantik PNS 100%, Alhamdulillah...

Maret :
1. Ngecek mata karena  jarak pandang makin ga deket. Liat orang banyakan buremnyahh... Setelah di cek... Horeeee, welcome minus 1 dan 1,5 :')
2. Ikut Diklat Penyusunan LAKIP di Ciawi, Bogor. Perwakilan dari Pemda Musi Rawas Utara. *DL pertama kali keluar provinsi :D

April :
1. Mama ulang tahun.. Sokongan sama papah dan adek beli hape baru untuk mamah....and, I love to see her happy face
2. Jadwal prajabatan keluar dadakan... siap ga siap, masuk bandiklat...

Mei :
1. Nikahan Kak Andi dan Yuk Gita. Hampir aja ga bisa dateng karena masih Prajabatan. Tapi Alhamdulillah Allah mengatur semuanya dengan baik. Pas minggu acara, pas kita semua dapet izin bermalam empat hari.. jadi bisa dateng... :')
2. Ayank bawa keluarganya datang kerumah Prabumulih. Meet my Mom. Perkenalan awal, untuk terus ketahap selanjutnya. Bismillah...

Juni :
1. Prajabatan selesai. Alhamdulillaaaaah. Muratara lulus 100%
2. Kedua kalinya puasa jauh dari rumah dan berasa banget kesepiannya :')

Juli :
1. Tamasya sekeluarga... Lihat Al-quran raksasa di gandus, main ke tanjung sejai di OI... bukan liburan seperti yang diharapkan, tapi alhamdulillah masih bisa refreshing.
2. Alhamdulillah ya Allah.. Akhirnya pengobatan Mamah di Bogor beres. Bulan ini terakhir kita dateng kesana. Sedih karena ga ada alesan nyamperin adek lagi, bahagia karena setelah sekian tahun akhirnya cancernya hilang hilang hilaaaaaang beneran... Alhamdulillah :')

Agustus :
1. Selain jadwal prajabatan yang mendadak, jadwal pelantikan PNS pun mendadak. Tiba-tiba ada surat panggilan pelantikan PNS. God works in His own way, satu per satu check list before married nya bidadari done...
2. Beli mesin cuci karena sok ga kuat lagi nyuci tangan. Padahal ga bisa nyuci dan ga bersih hahahahahahaha

September :
1. Tamasya ke Bedegung, sama ayank dan mama papa adek..
2. Diklat Pembentukan Auditor. Another things to do before married. Allah Maha Baiiik... Semua yang dea harus selesaikan sebelum menikah, akhirnya sudah kesampean semua..

Oktober :
DILAMAR!!
Kudu di capslock emang.. Setelah sekian tahun dengan hubungan yang gak melulu mulus, dihadang jarak, ditiup angin, diterpa badai.. Akhirnya sampai juga pada tahap ayank membawa keluarga besarnya kerumah dan Ask me to be his wife. Ya Allah, bidadari bahagiaaaaaa ~

November :
1. Diklat Probity Audit ke Ciawi, Bogor.
2. Ujian Sertifikasi Auditor... Alhamdulillah lancar, tinggal tunggu hasilnya yang masih berbulan-bulan kedepan..
3. Survei gedung sama ayank...
4. Special birthday... si ayank dateng, bawa bunga. Ayank yang ga romantis, tapi selalu aja bikin hal-hal kecil terasa manis. Gimana bidadari ga cinta banget cobaaaaaa ~
5. Pindah kostan. Alhamdulillah. Ga ribet masalah air sama listrik lagi. Dan lebih deket kemana-mana, beli makan malem ga jauh lagi. Horeehh...

Desember :
1. Tamasya singkat ke Bird Park dan BKB sama Adek-Adek, mamah dan papah. Not a real holiday tapi lumayaaaaan...
2. Cek gedung. Cek undangan. Cek souvenir. Count down to the big day... Bismillah... Ya Allah, mudahkanlah...

2016 udah abis, kalo cek resolusi, masih banyak banget yang belum kesampeaaaan... Tapi yasudahlah, toh banyak hal baik lainnya yang terjadi sepanjang tahun ini...

Sudah sampe diujung 2016 dan masih belum SAH sama ayank.. Gapapa... Mundur setahun lagi dari rencana. Memang Allah tunggu waktu yang pas, saat kita berdua siap. Karena sebaik-baik manusia berencana, rencana Allah lah yang paling tepat baiknya. Mudahkan rencana kami tahun depan ya Allah. Beri rezeki yang banyak dan halal karena beneran deh biaya nikah itu mahaaallll... Jauhkan kami dari segala macam jenis godaan yang bisa membahayakan rencana kami... Jaga kami selalu, ya Allah. Aamiin. Aamiin. Aamiin...

24 November 2016

Another Late Birthday Post

Officially 26 Years Old.
Alhamdulillah.

Setahun lagi berlalu dalam periode hidup. Setahun yang banyak banget hal-hal indah, hal-hal baik, yang mampir dalam hidup dhea. Hal-hal yang bahkan berasa bikin dhea lagi mimpi, dan syukur Alhamdulillaaaah itu semua nyata dan dhea lagi ga mimpi. Allah Maha Baik, padahal hamba-Nya ini banyak dosa.

Mulai dari prajabatan yang jadwalnya mendadak, (dan nyaris bikin kebaya yang udah dijahit dari kapan tahun jadi ga kepake), sampe ke pelantikan dan sumpah jabatan yang jadwalnya juga mendadak. Mulai dari acara ketemu dua keluarga besar, (yang karena prajabatan bikin gue ga bisa ada ditengah-tengah acara) sampe ke acara Lamaran kemari . Mamah yang kesehatannya membaik jadi ga mesti check up ke Bogor lagi. Terakhir, diklat pembentukan auditor dan ujian sertifikasi auditor yang jadwalnya mundur-mundur mulu dan Alhamdulillah udah beres.

Alhamdulillah ya Allah. Semua things to do nya dhea sebelum menikah sudah keconteng semua, tinggal beli mobil yang belum.. Hihiii... Memang ga semuanya di waktu yang dhea rencanakan, tapi Allah selalu buat semuanya terjadi diwaktu yang tepat. Terimakasih ya Allah. Tidak semua yang dhea mau, Allah berikan. Tapi Allah selalu berikan semua yang dhea butuh. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang sanggup dhea dustakan... Terimakasih :')

Salah seorang teman baik pernah bilang sama dhea, bahwa takaran bahagia ga melulu soal uang yang banyak. Tapi, bahagia justru adalah tentang sebanyak apa kita bisa meraih apa yang kita mau. Maka ya Allah, dhea ga minta jadi kaya, tapi cukupkanlah rezeki dhea. Dhea pula ga minta umur panjang hingga ratusan tahun lamanya, tapi berkahilah sepanjang umur dhea agar menjadi bermanfaat. Lindungi hamba selalu ya Allah, pada setiap langkah dan pilihan-pilihan dhea. Mudahkan dan lancarkanlah semua rencana dhea. Ampuni dosa-dosa dhea, yang bahkan kebanyakan dhea lakukan dengan sadar. Sertai dhea selalu, karena dhea ga punya kuasa sedikitpun atas hidup ini. Terimakasih karena sudah selalu sayang sama dhea... Beri dhea yang baik-baik, seperti selalu. Aamiin. I love you, too, God. As Always... :* :')

...
...
...

Tahun ini, kebetulan ulang tahun jatuh di hari sabtu. Si Ayank emang udah rencana mau ke Prabumulih krna hari minggunya kita berdua ada jadwal cek gedung dan pelaminan. Ditungguin dari pagi, lamaaa bener, abis magrib baru nyampe. Bidadari jemput ke depan karena travelnya ga nganter masuk sampe rumah. Pas dia deket, dia kasih bunga mawar merah... That's so surprise me. Kaget, terharu, bahagia. Ayank emang selalu bisa bikin hal-hal kecil terasa manis. Terimakasih, sayangku.

Ternyata ga sampe disitu aja... Pas sampe rumah.. Ruang tamu udah disulap si bungsu jadi rameeee. ada kue tart di meja, ada balon-balon, ada tulisan happy birthday. Ayank sama yona dan mama papa udah janjian, ternyata. Saking kaget dan terharunya , sampe mau nangiiiis :') Thank you so much, sayang2... :* :*

Well.. Happy birthday to me. Sudah umur 26 dan belom jadi istri orang hahahahaaa... Insyaallah tahun depan sudah jadi istri, dan sudah jadi calon ibu. Aamiin.

Terimakasih ya Allah. Bidadari bahagia....

12 Oktober 2016

Dia

***
“Bagus yang mana ya, Sa?”

Laki-laki ganteng didepanku ini bertanya sambil menunjukkan dua buah tas perempuan di tangannya. Bentuk dan ukurannya hampir mirip sih, tapi warnanya beda.

Aku tersenyum, kemudian menunjuk tas ditangan kanannya yang berwarna merah.

“Harusnya aku gak perlu tanya lagi, ya... Kamu kan selalu pilih warna merah dari apapun...” Katanya, lalu tertawa.

Aku meninju pelan lengannya.

“Oke. Aku bayar ini dulu ya, sayang...”

Aku mengangguk. Dia berjalan menuju kasir, dengan tas warna merah yang tadi aku pilih.

Aku lupa bagaimana awalnya kami bisa menjadi begitu dekat. Kami rekan satu kantor, dan dia memang tipe laki-laki baik, ramah, dan menyenangkan. Dia suka bercanda, dan selalu aja bisa bikin aku ketawa. Daya tariknya emang cukup dahysat, He looks like a goddess for me. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang nyaris sempurna seperti dia. Mungkin Tuhan sedang dalam mood yang baik waktu menciptakan dia, segala yang baik-baik kayaknya ada sama dia. Ah, pokoknya kalian harus ketemu dia dan liat langsung deh baru bisa percaya.

Aku memperhatikan dia dari jauh. Kasir sedang memproses transaksinya. Sesekali aku melihat dia tersenyum, entah apa yang sedang dia bicarakan pada kasir itu. Mendadak seperti ada yang menekan tombol play, otakku mulai memainkan suatu video.

***

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II
Dia datang dengan kemeja biru muda dan jeans biru dongker, berjalan santai menujuku. Debaran jantungku sudah tidak normal. Dia tersenyum dari jauh, senyum yang selalu melelehkan organ-organ dalamku. Sialan, kenapa dia ganteng banget gitu?

“Udah lama nunggunya?”

“Belum kok... Naik apa kesini?”

“Taksi... Yuk masuk...”

Dia meletakkan kopernya di troli yang sudah berisi koper dan ransel milikku, kemudian tanpa menunggu persetujuanku dia mendorongnya.

Kami berdua mendapatkan tugas untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan di Jakarta. Iya, berdua aja. Bencana banget karena bakal bikin aku ga kuat iman. Ditambah dia datang dengan tampilan ganteng banget begini. Duh...

“Ganteng banget sih, nanti aku salah fokus...” aku menggodanya

Dia tertawa, “Gapapa, aku justru pengen kamu salah fokus aja...”

“Enakan di kamu kalo gitu...”

Dia hanya menanggapinya dengan tertawa.

***

“Sayang...”

Lamunanku buyar. Laki-laki ganteng itu sudah berdiri dihadapanku, dengan bungkusan berisi tas tadi ditangannya.

“Udah?” tanyaku basa-basi.

Dia mengangguk. “Makan dulu kita?”

“Boleh... Mau makan apa?”

“Apa aja asal jangan sea food ya, sayang...” Katanya seolah mengingatkan, padahal aku selalu ingat bahwa dia alergi sea food. Lagian, bagian mana dari dia yang aku lupa? Tepatnya... bagian mana tentang kami yang aku lupa sih?

“Tiffany Dessert aja, mau?” tawarnya, “Biar kamu bisa sekalian pesen eskrim lucu favorite kamu itu...” lanjutnya.

Aku tertawa, mengangguk. Kemudian kami berjalan bersisian.

Sudah sekitar enam bulan sejak pertama kami berdua diberangkatkan Pendidikan dan Pelatihan itu, dan seingatku memang Pendidikan dan Pelatihan itulah yang membuat kami dekat. Selama ini kami hanya sebatas rekan kerja, tapi kemudian tidak setelah pulang dari sana. Seperti ada perjanjian tidak tertulis yang kami berdua sama-sama pahami.

***
Aku baru selesai mandi saat mendengar pintu kamarku digedor.

“Sa?”

Tergesa aku membuka pintu. Masih dengan handuk melilit diatas kepalaku, aku sedikit terkejut mendapati dia berdiri tepat didepan pintu kamarku dan tersenyum. Dia dengan kaos hitam pas badan, dan jeans biru dongker. Lalu senyum manis yang selalu saja melelehkan.

“Hei, ganteng banget... mau kemana?” tanyaku dengan debaran jantung tak menentu.

“Mau ajakin kamu keluar...”

Aku menatapnya bingung.

“Ganti baju gih, makan sate padang didepan yuk... Aku tunggu di lobi, ya...” katanya tanpa menunggu persetujuanku, kemudian berlalu meninggalkan aku dengan kening berkerut.

Malam itu, kami bercerita banyak. Tentang dia, tentang aku. Tentang kantor. Tentang keluarga kami. Malam itu, pertama kalinya sejak kami menjadi rekan kerja satu kantor, kami bicara hal-hal pribadi begitu banyak. Banyak sekali, dan beberapa membuat aku terkejut.
Malam itu, dan malam-malam setelahnya, kami semakin dekat.

***
“Jangan pesen ayam bakar ya, sayang... Nanti porsinya kecil, kamu marah-marah...” Aku menggodanya sambil membaca deretan menu pada daftar menu.

Dia tersenyum geli, pasti masih ingat tragedi dia marah-marah sama waitress yang nganter pesanan kami hanya karena menurut dia ayam bakarnya terlalu kecil. Padahal kan ukuran ayam emang segitu.

“Aku bebek bakar aja, deh...” Katanya.

“Kamu pesen apa, sayang?”

“Ayam cabe ijo... Sama lemon tea...”

“Lemon tea-nya dua, kan?” dia memastikan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Sesuatu menghangat dibalik dadaku karena ternyata ada hal-hal kecil tentang aku yang dia ingat.

“Paket bebek bakar satu, paket ayam cabe ijo satu, lemon tea-nya tiga...” Dia menyebutkan pesanan kami, waitress mencatatnya.

Waitress itu mengulang pesanan kami sebagai konfirmasi. Kemudian berlalu.
Dia mengeluarkan handphone-nya dan mulai bermain game. Aku menopang daguku dengan tangan, diatas meja, dan memperhatikannya dalam-dalam.
Setiap kali lagi bareng dia seperti ini, aku selalu merasa seperti mimpi. Saking bahagia dan indahnya, aku sampe gak berani mengedipkan mata. Karena aku takut, saat aku mengedipkan mata, kenyataan berubah, dan ternyata dia gak ada sama aku.

Iya. Sampe seperti itu...

***
Pada hari pertama kami kembali masuk kantor setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan, dia mengirimiku bbm di sela-sela jam kerja.

“Keluar, yuk... Jajan eskrim...” katanya pada BBM chat.

Yang kemudian aku iyakan, dan kami pergi diam-diam. Ada banyak alasan kenapa kami harus pergi diam-diam tanpa sepengetahuan rekan kerja yang lain. Alasan paling kuat adalah karena kami tidak begitu dekat, dan kalau ada yang tahu kami mau pergi, pasti ada juga yang mau ikut.

Hari itu, pertama kalinya kami duduk berdua saja didalam mobil. Dia menyetir, aku disebelahnya. Kami tidak bicara banyak. Dia bilang aku cantik, lalu gombalan-gombalan klise lainnya, beli eskrim di indomaret dan memilih makan sambil jalan. Lalu kembali ke kantor.
Tepat saat mobil itu berhenti diparkiran, dia menatapku dalam-dalam. Sesuatu dibalik dadaku berdetak tak beraturan saat mata kami beradu. Mata bulat cokelat, senyum melelehkan. Dia mendekat, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain menunggu apa yang akan terjadi kemudian, hingga akhirnya bibir lembut dia menyentuh pelan bibirku.

Lembut. Hangat. Tidak tergesa-gesa.

Awalnya aku hanya diam, menikmati ciuman lembutnya. Kemudian aku membalasnya. Balas menciumnya dengan menggebu, hingga kami berdua kehabisan nafas dan saling menjauhkan diri.

***
“Hei.. Kenapa ngeliatinnya begitu?” dia menggoyang-goyangkan tangannya didepanku, menyadarkanku dari lamunan kenangan masa lalu. “Ngelamunin apa hayoooo....”

Aku tersenyum, “Nggak pa-pa, sayang. lagi mikir sesuatu aja....” kataku pelan.

“Apa, sayang?”

“Mikir... kok bisa, ya... Kita berdua sedeket ini. Udah kayak nggak ada batasan lagi. Kayak gini....”

Dia tersenyum, meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Sampe sekarang aku tuh sering ngerasa kayak mimpi loh, sayang...”

Dia tertawa, “Sayang ini... sini coba cium dulu biar tau kalo lagi gak mimpi”
“Iyaaa... saking indah dan bahagianya itu loh, sayang...”

Dia tersenyum, mempererat genggamannya pada tanganku.

“Makasih ya, sayang....” aku memberi jeda pada ucapanku. “Untuk semuanya....” lanjutku.

Dia tidak menjawab, hanya menatapku dan tersenyum. Senyum melelehkan khas dia itu. Debaran jantungku sudah tak menentu.

“Kamu tiba-tiba mesra kayak gini sama aku tuh semacam jawaban Tuhan atas doa-doa aku selama ini...” aku tersenyum malu.

“Jadi kamu udah lama ya ada rasa sama aku, sayang?”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa gak pernah bilang?” desaknya.

Aku tersenyum, membalas genggaman tangannya.

“Karena aku ini sadar diri, sayang. Siapalah aku ini berani-beraninya bilang sayang sama kamu. Karena aku tau kita ini bedanya kayak langit sama bumi, sayang. Karena bagi aku kamu terlalu sempurna, dan gak mungkin banget aja sayang...”

“Kok ngomongnya gitu siiih.....”

“Tapi, sayang. Alasan utamanya adalah, karena aku tahu kamu sudah punya istri. Dan dua anak yang lucu. Dan kamu bahagia dengan pernikahan kamu....” Aku menjelaskan pelan, tersenyum.

Hatiku perih. Mengenang kenyataan bahwa laki-laki ganteng yang kini duduk dihadapanku, menggengam erat tanganku ini adalah hak orang lain. Bahwa laki-laki yang membuat debaran jantungku tak menentu ini adalah suami orang lain, ayah orang lain.

“Aku bahkan gak pernah berandai-andai kita bertemu lebih dulu, sayang. Tahunan sebelum aku punya pacar, atau sebelum kamu menikah...”

Dia menatapku, menuntut jawaban.

“Karena kita sudah bertemu di waktu yang pas. Kalo kita bertemu lebih cepat, ceritanya pasti beda. Pun kita bertemu lebih cepat, aku tetap tidak akan jadi tipe wanita yang kamu pilih untuk kamu nikahi. Kita ini beda jauh, dan aku sadar diri sayang....”

Sudut mataku memanas. Aku tidak ingin menangis, tapi rasanya pilu sekali.

“Sayang....”

Aku tersenyum, “Aku tuh sayang banget sama kamu. Dan meski tau kalo aku udah jahat banget dengan apa yang aku lakukan selama ini, aku gak pengen berhenti sayang....”

Dia menatapku, tatapan sayang yang tulus. Tatapan yang meluluhkan aku, membuat aku dengan sadar melakukan ini, tanpa todongan senjata atau ancaman paksa apapun. Semua ini murni karena aku yang mau.

“Aku sayang kamu karena kamu sayang banget sama istri kamu itu. Wanita yang menurut aku beruntung banget bisa dapetin kamu. Ah, tapi kalian memang pantas untuk saling memiliki. Kalo dipikir-pikir lagi, apalah aku ini ya dibanding istri kamu itu...”

“I love you, too, sayang...” Dia memotong ucapanku cepat. “Jangan dilanjutin lagi, ya...” Dia menempelkan telunjuknya dibibirku. “Aku sayang sama kamu, udah.. Dan kamu gak jahat karena aku tau kamu gak akan kayak gini kalo bukan aku yang mulai...”

Aku tersenyum, dia benar.

Makanan pesanan kami datang. Tapi nafsu makan dan rasa lapar sudah hilang entah kemana. Tapi kami tetap makan, menyuapkan makanan kedalam mulut yang terasa hambar.

Aku sayang dia karena dia sayang banget sama istrinya. Tas yang tadi dia beli, itu untuk istrinya. Iya, bukan buat aku. Dan ini bukan pertama kalinya aku menemani dia membeli sesuatu untuk istrinya. Aku sayang dia karena sekalipun dia sedang bersamaku, dia tetap ingat istri dan dua anaknya. Dia gak pernah menutupi kenyataan itu, dan aku tidak pernah protes. Dia sering bercerita padaku tentang istri dan anak-anaknya.

Aku kadang cemburu, keluarga mereka nampak begitu bahagia. Aku tidak mengerti kenapa dia datang padaku, padahal keluarganya begitu bahagia. Andai kau bertemu istrinya, kau pasti tidak akan percaya bahwa dia akan seperti ini... padaku.

Tapi bersama dia aku bahagia. So, I take the risk and ignore much thing.

Ampuni aku, Tuhan.

Blog Design ByWulansari