12 Oktober 2016

Dia

***
“Bagus yang mana ya, Sa?”

Laki-laki ganteng didepanku ini bertanya sambil menunjukkan dua buah tas perempuan di tangannya. Bentuk dan ukurannya hampir mirip sih, tapi warnanya beda.

Aku tersenyum, kemudian menunjuk tas ditangan kanannya yang berwarna merah.

“Harusnya aku gak perlu tanya lagi, ya... Kamu kan selalu pilih warna merah dari apapun...” Katanya, lalu tertawa.

Aku meninju pelan lengannya.

“Oke. Aku bayar ini dulu ya, sayang...”

Aku mengangguk. Dia berjalan menuju kasir, dengan tas warna merah yang tadi aku pilih.

Aku lupa bagaimana awalnya kami bisa menjadi begitu dekat. Kami rekan satu kantor, dan dia memang tipe laki-laki baik, ramah, dan menyenangkan. Dia suka bercanda, dan selalu aja bisa bikin aku ketawa. Daya tariknya emang cukup dahysat, He looks like a goddess for me. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang nyaris sempurna seperti dia. Mungkin Tuhan sedang dalam mood yang baik waktu menciptakan dia, segala yang baik-baik kayaknya ada sama dia. Ah, pokoknya kalian harus ketemu dia dan liat langsung deh baru bisa percaya.

Aku memperhatikan dia dari jauh. Kasir sedang memproses transaksinya. Sesekali aku melihat dia tersenyum, entah apa yang sedang dia bicarakan pada kasir itu. Mendadak seperti ada yang menekan tombol play, otakku mulai memainkan suatu video.

***

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II
Dia datang dengan kemeja biru muda dan jeans biru dongker, berjalan santai menujuku. Debaran jantungku sudah tidak normal. Dia tersenyum dari jauh, senyum yang selalu melelehkan organ-organ dalamku. Sialan, kenapa dia ganteng banget gitu?

“Udah lama nunggunya?”

“Belum kok... Naik apa kesini?”

“Taksi... Yuk masuk...”

Dia meletakkan kopernya di troli yang sudah berisi koper dan ransel milikku, kemudian tanpa menunggu persetujuanku dia mendorongnya.

Kami berdua mendapatkan tugas untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan di Jakarta. Iya, berdua aja. Bencana banget karena bakal bikin aku ga kuat iman. Ditambah dia datang dengan tampilan ganteng banget begini. Duh...

“Ganteng banget sih, nanti aku salah fokus...” aku menggodanya

Dia tertawa, “Gapapa, aku justru pengen kamu salah fokus aja...”

“Enakan di kamu kalo gitu...”

Dia hanya menanggapinya dengan tertawa.

***

“Sayang...”

Lamunanku buyar. Laki-laki ganteng itu sudah berdiri dihadapanku, dengan bungkusan berisi tas tadi ditangannya.

“Udah?” tanyaku basa-basi.

Dia mengangguk. “Makan dulu kita?”

“Boleh... Mau makan apa?”

“Apa aja asal jangan sea food ya, sayang...” Katanya seolah mengingatkan, padahal aku selalu ingat bahwa dia alergi sea food. Lagian, bagian mana dari dia yang aku lupa? Tepatnya... bagian mana tentang kami yang aku lupa sih?

“Tiffany Dessert aja, mau?” tawarnya, “Biar kamu bisa sekalian pesen eskrim lucu favorite kamu itu...” lanjutnya.

Aku tertawa, mengangguk. Kemudian kami berjalan bersisian.

Sudah sekitar enam bulan sejak pertama kami berdua diberangkatkan Pendidikan dan Pelatihan itu, dan seingatku memang Pendidikan dan Pelatihan itulah yang membuat kami dekat. Selama ini kami hanya sebatas rekan kerja, tapi kemudian tidak setelah pulang dari sana. Seperti ada perjanjian tidak tertulis yang kami berdua sama-sama pahami.

***
Aku baru selesai mandi saat mendengar pintu kamarku digedor.

“Sa?”

Tergesa aku membuka pintu. Masih dengan handuk melilit diatas kepalaku, aku sedikit terkejut mendapati dia berdiri tepat didepan pintu kamarku dan tersenyum. Dia dengan kaos hitam pas badan, dan jeans biru dongker. Lalu senyum manis yang selalu saja melelehkan.

“Hei, ganteng banget... mau kemana?” tanyaku dengan debaran jantung tak menentu.

“Mau ajakin kamu keluar...”

Aku menatapnya bingung.

“Ganti baju gih, makan sate padang didepan yuk... Aku tunggu di lobi, ya...” katanya tanpa menunggu persetujuanku, kemudian berlalu meninggalkan aku dengan kening berkerut.

Malam itu, kami bercerita banyak. Tentang dia, tentang aku. Tentang kantor. Tentang keluarga kami. Malam itu, pertama kalinya sejak kami menjadi rekan kerja satu kantor, kami bicara hal-hal pribadi begitu banyak. Banyak sekali, dan beberapa membuat aku terkejut.
Malam itu, dan malam-malam setelahnya, kami semakin dekat.

***
“Jangan pesen ayam bakar ya, sayang... Nanti porsinya kecil, kamu marah-marah...” Aku menggodanya sambil membaca deretan menu pada daftar menu.

Dia tersenyum geli, pasti masih ingat tragedi dia marah-marah sama waitress yang nganter pesanan kami hanya karena menurut dia ayam bakarnya terlalu kecil. Padahal kan ukuran ayam emang segitu.

“Aku bebek bakar aja, deh...” Katanya.

“Kamu pesen apa, sayang?”

“Ayam cabe ijo... Sama lemon tea...”

“Lemon tea-nya dua, kan?” dia memastikan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Sesuatu menghangat dibalik dadaku karena ternyata ada hal-hal kecil tentang aku yang dia ingat.

“Paket bebek bakar satu, paket ayam cabe ijo satu, lemon tea-nya tiga...” Dia menyebutkan pesanan kami, waitress mencatatnya.

Waitress itu mengulang pesanan kami sebagai konfirmasi. Kemudian berlalu.
Dia mengeluarkan handphone-nya dan mulai bermain game. Aku menopang daguku dengan tangan, diatas meja, dan memperhatikannya dalam-dalam.
Setiap kali lagi bareng dia seperti ini, aku selalu merasa seperti mimpi. Saking bahagia dan indahnya, aku sampe gak berani mengedipkan mata. Karena aku takut, saat aku mengedipkan mata, kenyataan berubah, dan ternyata dia gak ada sama aku.

Iya. Sampe seperti itu...

***
Pada hari pertama kami kembali masuk kantor setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan, dia mengirimiku bbm di sela-sela jam kerja.

“Keluar, yuk... Jajan eskrim...” katanya pada BBM chat.

Yang kemudian aku iyakan, dan kami pergi diam-diam. Ada banyak alasan kenapa kami harus pergi diam-diam tanpa sepengetahuan rekan kerja yang lain. Alasan paling kuat adalah karena kami tidak begitu dekat, dan kalau ada yang tahu kami mau pergi, pasti ada juga yang mau ikut.

Hari itu, pertama kalinya kami duduk berdua saja didalam mobil. Dia menyetir, aku disebelahnya. Kami tidak bicara banyak. Dia bilang aku cantik, lalu gombalan-gombalan klise lainnya, beli eskrim di indomaret dan memilih makan sambil jalan. Lalu kembali ke kantor.
Tepat saat mobil itu berhenti diparkiran, dia menatapku dalam-dalam. Sesuatu dibalik dadaku berdetak tak beraturan saat mata kami beradu. Mata bulat cokelat, senyum melelehkan. Dia mendekat, aku tidak bisa memikirkan hal lain selain menunggu apa yang akan terjadi kemudian, hingga akhirnya bibir lembut dia menyentuh pelan bibirku.

Lembut. Hangat. Tidak tergesa-gesa.

Awalnya aku hanya diam, menikmati ciuman lembutnya. Kemudian aku membalasnya. Balas menciumnya dengan menggebu, hingga kami berdua kehabisan nafas dan saling menjauhkan diri.

***
“Hei.. Kenapa ngeliatinnya begitu?” dia menggoyang-goyangkan tangannya didepanku, menyadarkanku dari lamunan kenangan masa lalu. “Ngelamunin apa hayoooo....”

Aku tersenyum, “Nggak pa-pa, sayang. lagi mikir sesuatu aja....” kataku pelan.

“Apa, sayang?”

“Mikir... kok bisa, ya... Kita berdua sedeket ini. Udah kayak nggak ada batasan lagi. Kayak gini....”

Dia tersenyum, meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Sampe sekarang aku tuh sering ngerasa kayak mimpi loh, sayang...”

Dia tertawa, “Sayang ini... sini coba cium dulu biar tau kalo lagi gak mimpi”
“Iyaaa... saking indah dan bahagianya itu loh, sayang...”

Dia tersenyum, mempererat genggamannya pada tanganku.

“Makasih ya, sayang....” aku memberi jeda pada ucapanku. “Untuk semuanya....” lanjutku.

Dia tidak menjawab, hanya menatapku dan tersenyum. Senyum melelehkan khas dia itu. Debaran jantungku sudah tak menentu.

“Kamu tiba-tiba mesra kayak gini sama aku tuh semacam jawaban Tuhan atas doa-doa aku selama ini...” aku tersenyum malu.

“Jadi kamu udah lama ya ada rasa sama aku, sayang?”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa gak pernah bilang?” desaknya.

Aku tersenyum, membalas genggaman tangannya.

“Karena aku ini sadar diri, sayang. Siapalah aku ini berani-beraninya bilang sayang sama kamu. Karena aku tau kita ini bedanya kayak langit sama bumi, sayang. Karena bagi aku kamu terlalu sempurna, dan gak mungkin banget aja sayang...”

“Kok ngomongnya gitu siiih.....”

“Tapi, sayang. Alasan utamanya adalah, karena aku tahu kamu sudah punya istri. Dan dua anak yang lucu. Dan kamu bahagia dengan pernikahan kamu....” Aku menjelaskan pelan, tersenyum.

Hatiku perih. Mengenang kenyataan bahwa laki-laki ganteng yang kini duduk dihadapanku, menggengam erat tanganku ini adalah hak orang lain. Bahwa laki-laki yang membuat debaran jantungku tak menentu ini adalah suami orang lain, ayah orang lain.

“Aku bahkan gak pernah berandai-andai kita bertemu lebih dulu, sayang. Tahunan sebelum aku punya pacar, atau sebelum kamu menikah...”

Dia menatapku, menuntut jawaban.

“Karena kita sudah bertemu di waktu yang pas. Kalo kita bertemu lebih cepat, ceritanya pasti beda. Pun kita bertemu lebih cepat, aku tetap tidak akan jadi tipe wanita yang kamu pilih untuk kamu nikahi. Kita ini beda jauh, dan aku sadar diri sayang....”

Sudut mataku memanas. Aku tidak ingin menangis, tapi rasanya pilu sekali.

“Sayang....”

Aku tersenyum, “Aku tuh sayang banget sama kamu. Dan meski tau kalo aku udah jahat banget dengan apa yang aku lakukan selama ini, aku gak pengen berhenti sayang....”

Dia menatapku, tatapan sayang yang tulus. Tatapan yang meluluhkan aku, membuat aku dengan sadar melakukan ini, tanpa todongan senjata atau ancaman paksa apapun. Semua ini murni karena aku yang mau.

“Aku sayang kamu karena kamu sayang banget sama istri kamu itu. Wanita yang menurut aku beruntung banget bisa dapetin kamu. Ah, tapi kalian memang pantas untuk saling memiliki. Kalo dipikir-pikir lagi, apalah aku ini ya dibanding istri kamu itu...”

“I love you, too, sayang...” Dia memotong ucapanku cepat. “Jangan dilanjutin lagi, ya...” Dia menempelkan telunjuknya dibibirku. “Aku sayang sama kamu, udah.. Dan kamu gak jahat karena aku tau kamu gak akan kayak gini kalo bukan aku yang mulai...”

Aku tersenyum, dia benar.

Makanan pesanan kami datang. Tapi nafsu makan dan rasa lapar sudah hilang entah kemana. Tapi kami tetap makan, menyuapkan makanan kedalam mulut yang terasa hambar.

Aku sayang dia karena dia sayang banget sama istrinya. Tas yang tadi dia beli, itu untuk istrinya. Iya, bukan buat aku. Dan ini bukan pertama kalinya aku menemani dia membeli sesuatu untuk istrinya. Aku sayang dia karena sekalipun dia sedang bersamaku, dia tetap ingat istri dan dua anaknya. Dia gak pernah menutupi kenyataan itu, dan aku tidak pernah protes. Dia sering bercerita padaku tentang istri dan anak-anaknya.

Aku kadang cemburu, keluarga mereka nampak begitu bahagia. Aku tidak mengerti kenapa dia datang padaku, padahal keluarganya begitu bahagia. Andai kau bertemu istrinya, kau pasti tidak akan percaya bahwa dia akan seperti ini... padaku.

Tapi bersama dia aku bahagia. So, I take the risk and ignore much thing.

Ampuni aku, Tuhan.

Blog Design ByWulansari